PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) menyampaikan materi Public Expose Tahunan 2026 kepada Bursa Efek Indonesia, dipaparkan oleh Direktur Utama Sumantri pada 10 September 2026. Dalam dokumen itu, RATU menjelaskan perannya sebagai perusahaan induk investasi non-operator di sektor minyak dan gas, artinya perusahaan tidak mengoperasikan sendiri ladang migasnya melainkan memegang porsi bagi hasil atau participating interest di empat blok yang dioperasikan pihak lain: 2,2423 persen secara tidak langsung di Blok Cepu, 8 persen langsung di Blok Jabung, 20 persen tidak langsung di Blok Selat Madura, dan 5 persen langsung di Blok Kasuri.
Pada semester I 2026, RATU membukukan pendapatan US$25,65 juta, naik 2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$25,15 juta, sejalan dengan kinerja lifting minyak dan gas di Blok Jabung. Adjusted EBITDA, yaitu laba inti dari kegiatan usaha sebelum dikurangi bunga, pajak, dan penyusutan aset, melonjak 38 persen menjadi US$21,28 juta dari US$15,37 juta pada semester I 2025, yang menurut perusahaan didorong kenaikan harga minyak mentah yang memperkuat margin.
Dari sisi operasional, produksi rata-rata Januari-Juni 2026 tercatat 127.000 barel minyak per hari di Blok Cepu, 47.283 barel setara minyak per hari di Blok Jabung, serta 2.908 barel setara minyak per hari kondensat dan 220 juta kaki kubik gas per hari di Blok Selat Madura. RATU menyebut produksi Blok Cepu tertekan oleh penurunan alami cadangan Banyu Urip dan Kedung Keris yang meningkatkan kadar air dan gas ikutan, sementara Blok Jabung sempat terganggu kebocoran pipa dan gangguan kompresor meski produksi sumur baru membantu memulihkan sebagian kehilangan produksi. Secara nasional, lifting minyak hingga Juni 2026 baru mencapai 578.000 barel per hari atau 94,8 persen dari target APBN 610.000 barel per hari, di tengah harga minyak Brent yang sempat menembus US$105 per barel pada 23 Juli 2026 menyusul penutupan Selat Hormuz akhir Februari 2026, sebelum turun ke kisaran US$95 per barel pada awal September 2026.
Dokumen ini juga merangkum rangkaian aksi korporasi RATU sejak IPO pada 8 Januari 2025 di harga Rp1.150 per saham yang menghimpun dana Rp624 miliar. Setelahnya, RATU masuk indeks MSCI Small Cap pada kuartal III 2025, menjadi anggota indeks IDX80, dan memperoleh peringkat korporasi idA dengan outlook stabil dari Pefindo pada kuartal IV 2025. Pada 2026, perusahaan mengakuisisi SMS Development Limited senilai US$121,5 juta untuk memperoleh 20 persen participating interest tidak langsung di Blok Selat Madura, didanai antara lain fasilitas kredit US$109,2 juta dari Bank Mandiri, lalu mengakuisisi 5 persen participating interest di Blok Kasuri senilai US$9,645 juta melalui anak usaha PT Raharja Energi Negeri. RATU juga menerbitkan obligasi Rp800 miliar bertenor 5 dan 7 tahun, serta membagikan dividen tunai Rp122,18 miliar atau Rp45 per saham yang disetujui dalam RUPST 7 Mei 2026.
