Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin, meski sempat menguat pada penutupan pekan lalu. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah dibuka di kisaran Rp17.820 hingga Rp17.880 per dolar Amerika Serikat. Proyeksi ini penting diperhatikan karena kurs yang lebih lemah bisa mendorong naik harga barang impor dan bahan baku bagi pelaku usaha.

Menurut Ibrahim, pelemahan berpotensi mencapai sekitar 60 poin, berbalik dari penguatan 50 poin yang tercatat pada penutupan perdagangan Jumat. Ia menyebut tekanan itu lebih banyak dipicu faktor eksternal, tanpa merinci lebih lanjut faktor tersebut.

Salah satu sentimen positif yang sempat mengangkat rupiah datang dari pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai arah kebijakan fiskal 2027. Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen, naik dari asumsi 5,4 persen dalam APBN 2026.

Pemerintah juga menetapkan target inflasi 2,5 persen dan defisit anggaran Rp671,2 triliun, setara 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto. Kombinasi target pertumbuhan yang lebih tinggi dan defisit yang terukur inilah yang menurut Ibrahim sempat menopang penguatan rupiah, sebelum tekanan eksternal diperkirakan kembali membayangi pekan depan.