Nilai tukar rupiah ditutup menguat 92 poin ke level Rp17.748 per dolar AS pada perdagangan Kamis (20/8/2026), setelah sempat naik hingga 95 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.840. Menurut pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, penguatan ini terjadi di tengah respons positif pasar terhadap rencana pemerintah memangkas kuota BBM bersubsidi secara signifikan pada 2027.

Untuk perdagangan Jumat (21/8/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif, namun berpeluang tetap ditutup menguat pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS. Sentimen dari rencana pengendalian subsidi energi dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang mata uang Garuda dalam beberapa hari terakhir.

Rencana pemangkasan kuota BBM bersubsidi yang mencapai 58,5 persen disebut sebagai bagian dari langkah pemerintah mengendalikan belanja subsidi pada 2027. Ibrahim menilai kebijakan ini berpotensi mempersempit akses masyarakat, terutama pengguna Pertalite, terhadap BBM bersubsidi, sehingga sebagian dari mereka bisa terdorong beralih ke BBM nonsubsidi yang harganya lebih tinggi.

Tekanan tambahan datang dari asumsi harga minyak mentah Indonesia atau ICP sebesar US$75 per barel yang dipakai pemerintah dalam menyusun kebijakan 2027, sementara menurut Ibrahim harga minyak saat ini berada di kisaran US$83 per barel, lebih tinggi dari asumsi tersebut.