Nilai tukar rupiah ditutup melemah 64 poin ke level Rp17.862 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (18/8/2026), turun dari posisi Rp17.798 sehari sebelumnya. Sepanjang hari, rupiah bahkan sempat tertekan hingga 80 poin sebelum sedikit menguat kembali menjelang penutupan. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan ini masih akan berlanjut pada perdagangan berikutnya.

Menurut Ibrahim, salah satu pemicu utama datang dari pasar energi. Harga minyak mentah dunia yang bergerak di atas US$83 per barel meningkatkan kebutuhan dolar AS bagi Indonesia untuk membiayai impor minyak, karena transaksi minyak global umumnya dibayar dalam dolar. Lonjakan permintaan dolar untuk kebutuhan itu ikut memperkuat posisi dolar AS sekaligus menekan rupiah.

Tekanan itu muncul bersamaan dengan naiknya posisi utang luar negeri Indonesia. Bank Indonesia mencatat utang luar negeri pada triwulan II 2026 mencapai US$453,4 miliar atau setara Rp8.089,1 triliun, tumbuh 4,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Posisi ini juga naik dibandingkan Mei 2026 yang tercatat US$444,4 miliar atau sekitar Rp7.928,5 triliun.

Untuk perdagangan Rabu, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.860 hingga Rp17.920 per dolar AS.