Nilai tukar rupiah menguat ke Rp17.810 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin pagi, 10 Agustus 2026, naik 87 poin atau 0,49 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.897. Penguatan ini menjadi sinyal bahwa pasar masih memberi kepercayaan terhadap kondisi fundamental ekonomi domestik, meski sentimen global sempat tertekan oleh ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Tren penguatan sebenarnya sudah terlihat sejak akhir pekan sebelumnya. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia, kurs rupiah tercatat Rp17.913 per dolar AS pada Jumat, 7 Agustus 2026, naik 6 poin dibandingkan posisi Kamis, 6 Agustus 2026, yang berada di Rp17.919.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia per akhir Juli 2026 tercatat US$145,3 miliar, relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar US$145,6 miliar. Menurut pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi, capaian ini terutama ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan obligasi global pemerintah, di tengah kewajiban pembayaran utang luar negeri dan langkah stabilisasi nilai tukar yang terus dijalankan Bank Indonesia. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,3 bulan bila digabung dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang hanya sekitar tiga bulan impor.
Bank Indonesia menilai ketahanan sektor eksternal ke depan akan tetap terjaga, ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing seiring persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan imbal hasil investasi yang masih menarik. Otoritas moneter juga menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah demi menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan.