Nilai tukar rupiah menguat tipis ke posisi Rp17.848 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, naik 13 poin atau 0,07 persen dari posisi sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap dua isu besar, yaitu proses pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia dan tinjauan indeks MSCI yang berlangsung pada hari yang sama. Pergerakan rupiah beberapa hari terakhir mencerminkan tarik ulur antara sentimen dari dalam dan luar negeri.
Berdasarkan kurs referensi Jisdor BI, rupiah sempat melemah 29 poin ke Rp17.824 per dolar AS pada Selasa, dari posisi Rp17.795 pada Senin. Menurut pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi, pelaku pasar mewaspadai tinjauan MSCI yang dijadwalkan 12 Agustus 2026, dengan perubahan penyeimbangan portofolio baru berlaku efektif setelah 31 Agustus 2026. Tinjauan semacam ini biasanya memicu penyesuaian posisi investor asing yang dapat memengaruhi arus modal jangka pendek.
Tekanan pelemahan rupiah, menurut Ibrahim, sedikit tertahan setelah Presiden Prabowo menunjuk Plt Gubernur BI Destry Damayanti untuk menggantikan Perry Warjiyo, langkah yang meredakan kekhawatiran pasar soal kepemimpinan bank sentral. Di sisi lain, sentimen pasar tertekan oleh data Indeks Keyakinan Konsumen yang turun dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli, level terendah sejak September 2025 dan turun 10,2 poin dibanding awal tahun.
Meski demikian, data penjualan eceran BI mencatat kenaikan 0,7 persen secara bulanan pada Juni 2026, mengakhiri tren kontraksi yang terjadi pada April (-11,6 persen) dan Mei (-1,5 persen). Perbaikan ini disebut lebih dipengaruhi pola musiman yang lazim terjadi setiap Juni, bukan sinyal pemulihan struktural konsumsi rumah tangga.