PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia pada 30 September 2026, menjawab permintaan penjelasan bursa atas laporan keterbukaan informasi perolehan kontrak penting proyek Data Center CGK5 dan CGK7 yang diumumkan Perseroan dua hari sebelumnya. Bursa meminta empat hal dijelaskan: identitas dan profil pemberi kerja beserta hubungan dengan Perseroan, gambaran proyek dan ruang lingkup pekerjaan, dasar pengategorian kontrak sebagai "Kontrak Penting", serta informasi material lain yang belum diungkapkan. Surat tanggapan ditandatangani Direktur Utama Rudi Hartono Intan di Bogor, dengan surat pengantar ditandatangani Direktur Riany Sandra Widjaja.

Perseroan menegaskan hubungan dengan pemberi kerja bersifat komersial murni tanpa hubungan afiliasi, namun menolak mengungkap identitas dan profil pemberi kerja karena terikat perjanjian kerahasiaan (NDA). Soal ruang lingkup, Perseroan menjelaskan perannya terbatas sebagai pemasok panel PTU (Power Train Unit) dan SKID, yaitu unit kelistrikan prefabrikasi untuk kebutuhan data center, dan secara eksplisit menyatakan lingkup ini tidak mencakup seluruh sistem kelistrikan proyek sehingga nilai pekerjaannya tidak boleh disamakan dengan nilai pembangunan fasilitas secara keseluruhan. Jadwal pelaksanaan mengikuti tahapan dalam kontrak, tetapi rincian waktu pengiriman dan ketentuan komersial tidak diungkapkan ke publik.

Soal alasan kontrak ini dikategorikan sebagai Kontrak Penting, Perseroan menyebut pertimbangannya adalah nilai yang material bagi Perseroan sendiri, bukan nilai proyek data center secara keseluruhan, serta relevansinya terhadap strategi pengembangan usaha jangka menengah dan panjang. Perseroan tidak mencantumkan nilai kontrak, skema pembayaran, maupun struktur biaya dalam tanggapan ini. Sebagai lampiran, Perseroan menyertakan data pembanding publik industri data center, seperti kapasitas empat fasilitas data center lain di Indonesia yang berkisar 9 sampai 45,6 MW dan tolok ukur biaya konstruksi Indonesia sebesar US$6,6 juta sampai US$11,2 juta per MW dari riset Cushman & Wakefield, namun menegaskan berulang kali bahwa seluruh angka ini adalah ilustrasi industri dan sama sekali bukan representasi nilai kontrak, kapasitas, atau proyeksi keuangan Perseroan sendiri.