PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) membukukan penjualan Rp2,50 triliun untuk sembilan bulan pertama 2026, turun 8,4 persen dari Rp2,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba usaha ikut tergerus, dari Rp1,03 triliun menjadi Rp788 miliar. Laba bersih periode berjalan tercatat Rp619,1 miliar, turun 24,4 persen dari Rp818,5 miliar pada sembilan bulan 2025. Akibatnya, laba per saham dasar turun dari Rp27,52 menjadi Rp21,04.
Di sisi lain, kas dan setara kas perusahaan melonjak menjadi Rp883,2 miliar pada akhir September 2026, naik 91 persen dari Rp462,6 miliar di akhir Desember 2025. Kenaikan ini ditopang arus kas dari aktivitas operasi sebesar Rp913,8 miliar. Total liabilitas Sido Muncul justru turun 33 persen, dari Rp561,4 miliar menjadi Rp374,2 miliar. Dalam surat penjelasan ke OJK, perseroan merinci penyebabnya: utang usaha turun 31 persen menjadi Rp146,8 miliar karena pembelian ke pemasok akhir September 2026 lebih sedikit dari akhir 2025, utang pajak turun 36 persen menjadi Rp123,8 miliar karena setoran angsuran PPh Badan sudah lebih tinggi dari kewajiban pajak terbaru, dan beban akrual turun 73 persen menjadi Rp24,2 miliar setelah perseroan membayar akrual iklan dan promosi 2025 senilai Rp52,5 miliar serta akrual THR dan bonus sekitar Rp12,3 miliar.
Total ekuitas perseroan naik menjadi Rp3,27 triliun dari Rp3,12 triliun, meski perseroan tetap membagikan dividen kas Rp441,5 miliar sepanjang sembilan bulan ini. Laporan keuangan interim kuartal III 2026 ini tidak diaudit, disusun sesuai Standar Akuntansi Keuangan Indonesia, dan ditandatangani oleh Direktur Utama Irwan Hidayat bersama Direktur Budiyanto.
