PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menyampaikan materi public expose tahunan kepada Bursa Efek Indonesia menjelang acara Public Expose Live 2026 yang akan digelar Rabu, 9 September 2026, pukul 14.00 hingga 15.00 WIB melalui situs idx.co.id. Materi tersebut memuat kinerja keuangan perseroan pada semester I 2026 sekaligus proyeksi bisnis untuk sisa tahun ini.

SIDO melaporkan pendapatan semester I 2026 sebesar Rp1,467 triliun, turun 20 persen dari Rp1,829 triliun pada semester I 2025. Laba usaha turun 43 persen menjadi Rp423 miliar dengan margin 29 persen, sementara laba bersih turun 44 persen menjadi Rp334 miliar dengan margin 23 persen, dibandingkan Rp600 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan menyebut penurunan ini disebabkan normalisasi persediaan produk Tolak Angin di tingkat distributor yang berlangsung selama empat bulan hingga Mei 2026, sementara penjualan ke konsumen akhir disebut tetap kuat dengan pangsa pasar Tolak Angin stabil di 71 persen.

Berdasarkan segmen usaha, penjualan Herbal dan Suplemen turun 41 persen menjadi Rp639 miliar dengan margin kotor turun dari 66 persen menjadi 60 persen. Sebaliknya, segmen Makanan dan Minuman tumbuh 11 persen menjadi Rp760 miliar didorong produk C+Collagen dan varian baru Alang Sari, sedangkan segmen Farmasi tumbuh 7 persen menjadi Rp67 miliar dengan margin naik dari 33 persen menjadi 37 persen. Bisnis internasional inti tumbuh 28 persen secara tahunan di luar minyak atsiri, dengan kontribusinya terhadap total penjualan naik menjadi 13 persen dari operasi di 34 negara, termasuk Filipina, Malaysia, dan Nigeria.

Di sisi neraca, kas dan setara kas SIDO tercatat Rp476 miliar pada semester I 2026, naik dari Rp463 miliar pada akhir 2025, meski perseroan telah menyalurkan sekitar Rp1,41 triliun kepada pemegang saham melalui dua pembayaran dividen dan pembelian kembali saham, dengan neraca yang tetap tanpa utang. Untuk tahun buku 2025, SIDO membagikan dividen Rp1,11 triliun atau sekitar 90 persen dari laba, setara Rp37 per saham, melanjutkan catatan pembayaran dividen 13 tahun berturut-turut dengan rasio rata-rata di atas 92 persen sejak pencatatan saham pada 2013. Anggaran belanja modal 2026 ditetapkan Rp120 miliar hingga Rp150 miliar, sementara proyeksi penjualan tahun ini direvisi turun sekitar 10 persen dengan pemulihan bertahap diperkirakan terjadi pada semester kedua 2026.