PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mengoreksi sekaligus mempertegas rencana transaksi material yang sebelumnya diumumkan 14 Agustus 2026. Perseroan, baik langsung maupun lewat anak usaha, berencana mengambil alih saham di 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit yang selama ini disewa dan dioperasikan oleh Siloam, dari anak-anak perusahaan First Real Estate Investment Trust (First REIT). Nilai total rencana transaksi ini mencapai Rp6,9 triliun, melebihi 50 persen ekuitas perseroan menurut Laporan Keuangan per 31 Maret 2026, sehingga wajib mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan 22 September 2026.
Transaksi dijalankan dalam dua tahap. Tahap pertama senilai Rp4,08 triliun berupa pengambilalihan 100 persen saham di delapan perusahaan berdasarkan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat tertanggal 1 April 2026, yaitu PT Sriwijaya Mega Abadi (Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang), PT Eka Dasa Parinama (Siloam Hospitals Purwakarta), PT Sentra Dinamika Perkasa (Siloam Hospitals Lippo Village), PT Graha Indah Pratama (Siloam Hospitals Kebon Jeruk), PT Dasa Graha Jaya (Siloam Hospitals Denpasar), PT Nusa Bahana Niaga (Siloam Hospitals Kupang), PT Buton Bangun Cipta (Siloam Hospitals Baubau), dan PT Menara Abadi Megah (Siloam Hospitals Manado). Tahap kedua senilai Rp2,83 triliun baru dijalankan bila pemegang opsi di enam perusahaan lain menggunakan hak jualnya berdasarkan Perjanjian Opsi Jual yang juga diteken 1 April 2026, yaitu PT Prima Labuan Bajo (Siloam Hospitals Labuan Bajo), PT Perisai Dunia Sejahtera (Siloam Hospitals TB Simatupang), PT Bayutama Sukses (Siloam Hospitals Makassar), PT Primatama Cemerlang (Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre), PT Graha Pilar Sejahtera (Siloam Hospitals Lippo Cikarang), dan PT Yogya Central Terpadu (Siloam Hospitals Yogyakarta).
Perseroan menunjuk KJPP Budi, Edy, Saptono dan Rekan sebagai penilai independen. Penilai Budi Syafaat menerbitkan laporan pendapat kewajaran bertanggal 13 Agustus 2026 dan menyatakan transaksi ini wajar serta bukan transaksi afiliasi maupun benturan kepentingan. Dalam laporan keuangan konsolidasian proforma yang disusun seolah transaksi sudah berlaku sejak 1 Januari 2026, total aset perseroan naik dari Rp15,32 triliun menjadi Rp23,91 triliun, tetapi total liabilitas ikut melonjak dari Rp5,10 triliun menjadi Rp13,73 triliun, terutama karena utang bank jangka panjang yang semula nol menjadi Rp8,88 triliun untuk mendanai akuisisi ini. Beban keuangan melonjak dari Rp36,3 miliar menjadi Rp175,5 miliar hanya dalam tiga bulan simulasi, sehingga laba periode berjalan proforma turun 14,7 persen, dari Rp293,6 miliar menjadi Rp250,5 miliar, meski pendapatan sedikit naik.
RUPSLB pada 22 September 2026 di MRIN Hall, Lippo Karawaci, Tangerang, juga akan meminta persetujuan pemegang saham untuk menjaminkan aset dan kekayaan perseroan senilai lebih dari 50 persen ekuitas guna mendanai transaksi ini, sekaligus menegaskan kembali pasal anggaran dasar soal kegiatan usaha agar sesuai klasifikasi baku lapangan usaha terbaru. Pemanggilan resmi RUPSLB dijadwalkan 31 Agustus 2026.
