PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) berencana mengakuisisi saham di 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit yang selama ini disewa dan dioperasikan Siloam, dari anak-anak usaha First Real Estate Investment Trust (First REIT). Rencana ini dibagi dua tahap. Tahap pertama mencakup delapan perusahaan yang sudah diikat lewat Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat tertanggal 1 April 2026: PT Sriwijaya Mega Abadi (Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang), PT Eka Dasa Parinama (Siloam Hospitals Purwakarta), PT Sentra Dinamika Perkasa (Siloam Hospitals Lippo Village di Tangerang), PT Graha Indah Pratama (Siloam Hospitals Kebon Jeruk), PT Dasa Graha Jaya (Siloam Hospitals Denpasar), PT Nusa Bahana Niaga (Siloam Hospitals Kupang), PT Buton Bangun Cipta (Siloam Hospitals Baubau), dan PT Menara Abadi Megah (Siloam Hospitals Manado).
Tahap kedua berisi enam perusahaan lain yang baru akan diambil alih kalau pemegang opsi jual dari First REIT memilih melaksanakan haknya berdasarkan Perjanjian Opsi Jual bertanggal sama: PT Prima Labuan Bajo (Siloam Hospitals Labuan Bajo), PT Perisai Dunia Sejahtera (Siloam Hospitals TB Simatupang di Jakarta Selatan), PT Bayutama Sukses (Siloam Hospitals Makassar), PT Primatama Cemerlang (Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre), PT Graha Pilar Sejahtera (Siloam Hospitals Lippo Cikarang di Bekasi), dan PT Yogya Central Terpadu (Siloam Hospitals Yogyakarta). Nilai transaksi disepakati berdasarkan nilai properti sebesar Rp9 triliun, dengan rincian Rp5,12 triliun untuk tahap pertama dan Rp3,88 triliun untuk tahap kedua, dan angka ini masih bisa berubah saat transaksi rampung karena disesuaikan dengan nilai aset bersih dan sisa komitmen belanja modal. Dengan asumsi nilai buku per 31 Maret 2026, manajemen memperkirakan nilai transaksi sekitar Rp6,91 triliun, terdiri dari Rp4,08 triliun untuk tahap pertama dan Rp2,83 triliun untuk tahap kedua. Kantor Jasa Penilai Publik Budi, Edy, Saptono dan Rekan menerbitkan pendapat kewajaran bertanggal 13 Agustus 2026 yang menyimpulkan rencana transaksi ini wajar, dan Siloam menjadwalkan RUPS luar biasa pada 22 September 2026 untuk meminta persetujuan pemegang saham. Seluruh pihak penjual merupakan anak usaha First REIT yang dinyatakan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan Siloam.
Laporan keuangan proforma yang dilampirkan Siloam, disusun dengan asumsi transaksi sudah efektif sejak 1 Januari 2026, memperlihatkan dampaknya jika akuisisi ini benar-benar terjadi. Total aset melonjak dari Rp15,32 triliun menjadi Rp23,91 triliun, terutama karena aset tetap bertambah Rp8,53 triliun seiring masuknya properti rumah sakit ke neraca Siloam. Penambahan aset itu dibiayai lewat utang bank jangka panjang baru senilai Rp8,88 triliun, yang sebelumnya nol. Akibatnya, beban bunga yang harus dibayar Siloam melonjak dari Rp36,33 miliar menjadi Rp175,51 miliar dalam tiga bulan, dan laba periode berjalan turun dari Rp293,57 miliar menjadi Rp250,46 miliar, berkurang Rp43,1 miliar.
