PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menyampaikan jawaban resmi kepada Bursa Efek Indonesia atas permintaan penjelasan bertanggal 25 September 2026, menanggapi sejumlah pertanyaan bursa soal rencana bisnis, divestasi, dan rencana pengambilalihan saham. Dalam surat yang ditandatangani Direktur Utama Amir Antolis, Perseroan menegaskan fokus pengembangan usahanya pada sektor pertambangan batu bara sepanjang 2026, melalui empat anak usaha yaitu PT Pasir Bara Prima, PT Persada Kapuas Prima, PT Pesona Bara Cakrawala, dan PT Cakrawala Bara Persada. Penguatan portofolio juga dilakukan lewat akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), yang memiliki penyertaan saham di PT Cristian Eka Pratama (CEP), pemegang izin usaha pertambangan produksi batu bara di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Perseroan juga menjelaskan latar belakang divestasi seluruh kepemilikan sahamnya di PT Interkayu Nusantara (IKN), perusahaan pengolahan kayu, senilai Rp31,8 miliar. Nilai itu ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan pembeli pihak ketiga tanpa melalui penilai independen, karena transaksi ini dinilai tidak masuk kategori transaksi material maupun transaksi afiliasi. Sebagai pembanding, pada 2018 Perseroan membeli 54 persen saham IKN seharga Rp20,03 miliar, jauh di atas nilai buku saat itu yang hanya Rp712,64 juta. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Juli 2026, penjualan kayu dari IKN menyumbang Rp215,74 miliar atau 40,11 persen dari total pendapatan usaha Perseroan, sehingga divestasi ini melepas kontributor pendapatan terbesar Perseroan saat ini. Data keuangan IKN yang dilampirkan menunjukkan asetnya turun dari Rp255,43 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp231,81 miliar per 30 Juni 2026, sementara kinerjanya berbalik dari laba bersih Rp15,59 miliar sepanjang 2025 menjadi rugi Rp17,08 miliar pada semester pertama 2026. Dana hasil divestasi akan dipakai untuk belanja modal, pembayaran kewajiban, dan operasional Perseroan, sementara kekurangan pendapatan akibat lepasnya IKN diharapkan tertutup dari kontribusi CEP yang mulai dikonsolidasikan sejak 1 Juli 2026, dengan estimasi kontribusi pendapatan KMS sebesar Rp119 miliar untuk periode Juli hingga September 2026.

Soal rencana pengambilalihan saham Perseroan oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), Perseroan menjelaskan bahwa negosiasi yang diumumkan CUAN pada 29 Desember 2025 telah dihentikan dan digantikan pembahasan baru yang diumumkan 4 September 2026. Sampai surat ini disampaikan, belum ada perjanjian definitif yang diteken para pemegang saham terkait, dan belum ada kesepakatan pasti soal jumlah saham, harga, maupun target waktu penyelesaian, meski rencana ini menyasar kepemilikan sekurang-kurangnya 51 persen saham Perseroan dari posisi CUAN saat ini sebesar 27,78 persen secara langsung maupun tidak langsung. Perseroan juga menyebut target produksi batu bara CEP sekitar 2,2 juta ton pada 2026, sementara dua tambang yang belum berproduksi, PT Pesona Bara Cakrawala dan PT Cakrawala Bara Persada, masih dalam proses pembebasan lahan dengan target penggalian pertama masing-masing pada 2027 dan 2028.