PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menyampaikan materi Public Expose Insidentil kepada Bursa Efek Indonesia pada 10 September 2026, menyusul surat sebelumnya tertanggal 9 September 2026 perihal rencana penyelenggaraan paparan publik tersebut. Paparan publik insidentil ini dilaksanakan atas permintaan BEI terkait suspensi perdagangan saham SINI pada 8 September 2026, dan dijadwalkan berlangsung pada 11 September 2026. Surat penyampaian materi ditandatangani oleh Direktur Utama SINI, Amir Antolis.

Dalam materi paparan, Perseroan mencatatkan pendapatan Rp537,8 miliar pada posisi 31 Juli 2026, tumbuh 147 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (belum diaudit). Pertumbuhan ini ditopang segmen penjualan batu bara yang membukukan pendapatan Rp321,9 miliar pada tujuh bulan pertama 2026, dari nihil pada periode yang sama 2025, sehingga kini menyumbang 60 persen dari total pendapatan. Segmen penjualan kayu justru sedikit turun menjadi Rp215,7 miliar dari Rp217,4 miliar. Laba bruto naik 200 persen menjadi Rp143,4 miliar dan laba usaha melonjak dari Rp3,7 miliar menjadi Rp73,8 miliar. Laba tahun berjalan tercatat Rp674,2 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp26,1 miliar pada 31 Juli 2025, yang menurut Perseroan didorong oleh perbaikan kinerja operasional serta keuntungan dari pembelian dengan diskon atas transaksi akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS).

Total aset Perseroan melonjak 318 persen menjadi Rp6,56 triliun per 31 Juli 2026 dari Rp1,57 triliun pada akhir Desember 2025, seiring konsolidasi aset KMS senilai Rp2,94 triliun dan lonjakan kas serta deposito menjadi Rp1,57 triliun dari dana hasil rights issue. Total liabilitas turut naik menjadi Rp2,97 triliun dari Rp2,26 triliun, sementara ekuitas berbalik dari minus Rp687,4 miliar menjadi Rp3,59 triliun. Perseroan menyelesaikan penerbitan 721.500.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham lewat skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, yang menghasilkan agio saham Rp3,54 triliun. Dana hasil rights issue dipakai untuk akuisisi KMS, pelunasan pinjaman bank ke Bank Mandiri dan BNI, investasi pada entitas anak, dan tambahan modal kerja.

Dari sisi bisnis, Perseroan yang berdiri sejak 2005 ini kini bergerak di pertambangan batu bara termal melalui lima entitas anak: Persada Kapuas Prima, Pasir Bara Prima, Pesona Bara Cakrawala, dan Cakrawala Bara Persada di Kalimantan Tengah yang sahamnya diakuisisi 75 persen pada 2023, serta Cristian Eka Pratama di Kalimantan Timur lewat akuisisi 99,995 persen saham KMS pada 2026. Total area konsesi kelima tambang itu mencapai 21.119 hektare dengan estimasi cadangan gabungan 231 juta metrik ton. Tiga di antaranya, yakni Persada Kapuas Prima, Pasir Bara Prima, dan Cristian Eka Pratama, sudah berproduksi, sementara Pesona Bara Cakrawala dan Cakrawala Bara Persada masih menunggu mulai beroperasi. Perseroan juga menjalankan jasa infrastruktur tambang lewat anak usaha Lintas Kelola Berlaba, termasuk jalan hauling sepanjang sekitar 40 kilometer yang menghubungkan empat konsesi di Kalimantan Tengah. Terkait rencana pengambilalihan oleh Grup PJK yang sempat menjadi sorotan, Perseroan menyatakan tidak memiliki informasi tambahan mengenai perkembangan negosiasi tersebut dan menegaskan tidak ada informasi atau fakta material lain yang belum diungkapkan ke publik.