PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMII menyampaikan koreksi atas laporan keuangan interim semester I 2026 yang sebelumnya sudah dipublikasikan, menyusul hasil pemeriksaan Otoritas Jasa Keuangan atas laporan keuangan perseroan untuk tahun buku 2025-2026. Surat yang ditandatangani Direktur Utama Reynaldi Hermansjah itu menyebutkan koreksi berdampak pada kenaikan laba dan penurunan liabilitas perseroan, masing-masing sebesar Rp126.792.600. Koreksi ini menyentuh Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain, Laporan Perubahan Ekuitas, serta Catatan atas Laporan Keuangan nomor 16, 21, 26, 30, 31, 32, 34, 35, dan 37. Perseroan menegaskan koreksi tersebut tidak material terhadap posisi keuangan, kinerja, maupun arus kas yang sebelumnya diungkapkan ke pemegang saham dan publik.

Dari sisi kinerja, jumlah aset SMII per 30 Juni 2026 tercatat Rp124,98 triliun, naik 3,02 persen atau Rp3,66 triliun dari posisi akhir 2025 sebesar Rp121,33 triliun. Kenaikan ini terutama didorong oleh pinjaman yang diberikan dan pembiayaan syariah bersih yang naik Rp5,75 triliun atau 6,57 persen menjadi Rp93,37 triliun, seiring pencairan pembiayaan baru ke debitur. Sebaliknya kas dan setara kas turun Rp773 miliar atau 5,74 persen menjadi Rp12,68 triliun karena dipakai untuk mendanai penyaluran pembiayaan tersebut. Di sisi liabilitas, pinjaman dari bank dan lembaga keuangan lain naik 23,77 persen menjadi Rp30,95 triliun akibat penarikan fasilitas pinjaman baru, sementara surat utang yang diterbitkan turun 8,62 persen menjadi Rp20,87 triliun setelah perseroan membayar surat utang jatuh tempo senilai Rp7,46 triliun. Jumlah ekuitas perseroan per akhir Juni 2026 mencapai Rp46,81 triliun, naik tipis dari Rp46,41 triliun.

Laba bersih periode berjalan tercatat Rp1,36 triliun, naik 16,13 persen atau Rp190 miliar dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp1,13 triliun. Perseroan menyebut kenaikan ini didorong oleh turunnya beban bunga sejalan penurunan suku bunga pasar, serta perbaikan kualitas aset pembiayaan yang menekan beban pencadangan kerugian kredit dan menambah pemulihan dari cadangan yang sebelumnya dibentuk. Laba per saham naik dari Rp37.027 menjadi Rp44.725. Namun arus kas dari aktivitas operasi berbalik menjadi negatif Rp5,27 triliun, dari positif Rp1,08 triliun pada semester I 2025, karena penyaluran pinjaman baru senilai Rp21,72 triliun jauh melampaui penerimaan dari pelunasan pinjaman debitur. Rasio lancar turun dari 105,28 persen menjadi 98,14 persen, sementara ROA turun dari 2,39 persen menjadi 2,18 persen dan ROE dari 6,67 persen menjadi 6,19 persen.