SOLA merespons surat Bursa Efek Indonesia No. S-10822/BEI.PP2/08-2026 tanggal 18 Agustus 2026 melalui surat tertanggal 20 Agustus 2026 yang ditandatangani Direktur Utama Mochamad Bhadaiwi. Bursa mempertanyakan lonjakan piutang usaha 86,96% pada laporan keuangan per 31 Maret 2026, termasuk kenaikan piutang yang jatuh tempo di atas 90 hari, sementara penyisihan kerugian piutang yang dibentuk perusahaan tetap di angka Rp3,28 miliar. SOLA menjelaskan kenaikan piutang jatuh tempo itu didominasi oleh PT Servo Lintas Raya, mitra lama tanpa riwayat gagal bayar, yang sudah menyepakati jadwal pembayaran bertahap dengan perusahaan.

Perseroan juga mengonfirmasi margin laba kotor turun dari 38,80% menjadi 25,18% pada kuartal I 2026, dan berlanjut turun dari 24,80% menjadi 13,02% pada semester I 2026 dengan rugi bersih Rp2,79 miliar. Penyebabnya, menurut perusahaan, adalah addendum perpanjangan kontrak Proyek Wisma Titan dan Proyek Jalan Hauling yang membuat rencana anggaran biaya membengkak, mencakup sewa alat berat, sewa rumah, gaji, biaya makan, hingga perawatan. Manajemen menyatakan penurunan margin ini diperkirakan berlanjut dan baru membaik mulai 2027, setelah proyek-proyek yang diperpanjang itu rampung dan beban overhead 2026 selesai dibebankan.

Terkait utang lain-lain kepada pihak ketiga senilai Rp22 miliar per 30 Juni 2026, SOLA menyebut kreditornya adalah PT Asia Pacific Ventura dan PT Karunia Multifinance, untuk menutup kebutuhan arus kas jangka pendek akibat keterlambatan pembayaran dari pelanggan besar. Jangka waktu pelunasan 6 bulan sampai 1 tahun sejak penarikan, dengan sumber pelunasan dari piutang PT Servo Lintas Raya, Pertamina Hulu Rokan, PT Royaltama Mulia Kontruksi, serta penjualan aspal dan arus kas operasional rutin lainnya.

Soal penggunaan dana IPO untuk penyertaan modal di anak usaha PT Xolabit Bitumen Industri (XBI), SOLA memaparkan Rp10,27 miliar telah dipakai melunasi pengadaan mesin yang kini sudah selesai diproduksi dan bersiap dikirim, diperkirakan tiba di pabrik XBI di Tuban pada September 2026 dan mulai berproduksi pada kuartal I 2027. Sebanyak Rp3,51 miliar dialokasikan untuk pembangunan pabrik aspal membran yang progresnya baru mencapai 40%, dengan target rampung dan mulai beroperasi 31 Desember 2026. Perseroan juga menyatakan tidak memiliki perkara hukum material serta tidak ada informasi penting lain yang belum diungkapkan ke publik.