PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE), produsen perlengkapan tekstil rumah tangga dengan merek Soraya Bed Sheet, menyampaikan laporan keuangan interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Penjualan neto tercatat Rp30,82 miliar, turun 16,8 persen dibandingkan Rp37,04 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Laba kotor turun dari Rp12,04 miliar menjadi Rp11,25 miliar, laba usaha merosot dari Rp2,41 miliar menjadi Rp1,27 miliar, dan laba bersih tahun berjalan turun paling dalam, dari Rp1,77 miliar menjadi Rp663,57 juta, atau anjlok 62,4 persen. Laba per saham dasar ikut turun dari Rp2,21 menjadi Rp0,83.
Di sisi lain, total aset perusahaan turun tipis 2,2 persen menjadi Rp54,89 miliar per akhir September 2026 dari Rp56,12 miliar pada akhir 2025, sementara total ekuitas naik sedikit menjadi Rp50,34 miliar dari Rp49,74 miliar. Yang mencolok adalah total liabilitas yang turun 29 persen, dari Rp6,38 miliar menjadi Rp4,55 miliar. Dalam surat terpisah bernomor 0038/CORSEC/SB/X/2026 tertanggal 27 Oktober 2026 yang ditandatangani Direktur Utama Rizet Ramawi, manajemen menjelaskan kepada Bursa Efek Indonesia bahwa penurunan ini wajib diungkapkan karena melampaui ambang 20 persen sesuai Peraturan I-E. Penyebabnya adalah pembayaran utang usaha, utang lain-lain kepada pihak berelasi, dan utang bank senilai total Rp2,01 miliar dibandingkan posisi akhir 2025.
Dari laporan arus kas, kas dan bank perusahaan turun menjadi Rp2,01 miliar dari Rp2,43 miliar di awal tahun. Aktivitas operasi masih menghasilkan kas bersih positif Rp1,59 miliar, meski lebih kecil dari Rp1,80 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Aktivitas pendanaan menyedot kas bersih Rp1,27 miliar, terutama untuk mencicil utang bank Rp300 juta dan melunasi utang kepada pihak berelasi senilai Rp1,22 miliar, lebih besar dari penggunaan kas pendanaan Rp585,22 juta pada periode sebanding 2025. Perseroan juga mencatat jumlah karyawan tetap berkurang dari 27 orang per akhir 2025 menjadi 23 orang per 30 September 2026.
