PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp4.808,8 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 44,7 persen dari Rp3.323,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen properti menjadi penopang utama pertumbuhan dengan pendapatan Rp1.483,5 miliar, melonjak 172,2 persen dari Rp545,0 miliar, didorong penjualan lahan industri di Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang senilai Rp1.150,5 miliar. Segmen perhotelan juga tumbuh kuat menjadi Rp940,9 miliar, naik 161,2 persen dari Rp360,2 miliar, sementara segmen konstruksi justru melambat menjadi Rp2.507,1 miliar dari Rp2.649,2 miliar karena perolehan kontrak baru yang lebih sedikit dibandingkan tahun lalu.
Laba kotor perusahaan naik 113,9 persen menjadi Rp1.581,7 miliar, dan EBITDA melonjak dari Rp256,7 miliar menjadi Rp951,5 miliar, sehingga margin EBITDA membaik dari 7,7 persen menjadi 19,8 persen. Laba bersih SSIA melonjak dari Rp6,5 miliar pada sembilan bulan 2025 menjadi Rp344,4 miliar pada periode yang sama tahun ini. Segmen properti menyumbang laba bersih Rp525,5 miliar, naik 330,7 persen, dan segmen konstruksi menyumbang Rp133,4 miliar meski turun 14,9 persen. Segmen perhotelan masih mencatat rugi bersih Rp34,9 miliar, tetapi kerugian itu sudah menyusut 74,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terutama karena okupansi dan tarif kamar yang tinggi di hotel-hotel SSIA di Bali seperti Paradisus by Meliá dan Umana Bali pada kuartal ketiga 2026.
Di unit konstruksi, PT Nusa Raya Cipta Tbk mencatat pendapatan konsolidasian Rp2.514,4 miliar pada sembilan bulan 2026, turun dari Rp2.655,2 miliar, dengan perolehan kontrak baru senilai Rp2.320,0 miliar atau turun 10,1 persen dari Rp2.579,5 miliar tahun lalu. Posisi kas SSIA tercatat Rp928,9 miliar pada akhir September 2026, turun 15,0 persen dari Rp1.093,0 miliar pada semester pertama, karena dipakai untuk akuisisi dan pengembangan lahan di Subang Smartpolitan. Utang berbunga perusahaan tercatat Rp2.242,1 miliar, turun 1,2 persen dari Rp2.269,1 miliar pada semester pertama, dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 26,0 persen.
