PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia, melalui surat nomor 041/DIR-FIN/SBI/X/2026 tertanggal 28 Oktober 2026 yang ditandatangani Direktur Melisa Hendrawati dan Direktur Sukiwan. Total aset bank tercatat Rp27,50 triliun, naik 29,21 persen dari Rp21,28 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas naik lebih cepat, 45,42 persen, menjadi Rp19,08 triliun dari Rp13,12 triliun, sementara total ekuitas hanya naik tipis menjadi Rp8,42 triliun dari Rp8,16 triliun. Laba bersih periode ini mencapai Rp299,9 miliar, melonjak dari Rp60,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu, ditopang pendapatan bunga bersih yang naik ke Rp1,56 triliun dari Rp1,10 triliun, meski beban bunga juga naik ke Rp790 miliar dari Rp400,2 miliar. Laba bersih per saham tercatat Rp8,8, naik dari Rp3,4 pada periode pembanding.

Pertumbuhan bisnis ditopang oleh penyaluran kredit yang mencapai Rp13,79 triliun, tumbuh 43,40 persen dari Rp9,62 triliun, yang menurut penjelasan manajemen didorong integrasi layanan bank dengan ekosistem digital, termasuk produk Pinjaman Atur Sendiri serta kemitraan dengan Grab dan OVO. Di sisi pendanaan, simpanan nasabah naik menjadi Rp17,60 triliun dari Rp11,83 triliun, dengan rincian giro Rp589 miliar (naik 100,34 persen dari Rp294 miliar, terutama dari giro korporasi), tabungan Rp2,995 triliun (naik 34 persen dari Rp2,235 triliun), dan deposito berjangka Rp14,018 triliun (naik 50,76 persen dari Rp9,298 triliun). Sebaliknya, penempatan dana di Bank Indonesia dan bank lain turun 58,54 persen menjadi Rp750 miliar dari Rp1,809 triliun, yang menurut manajemen merupakan bagian dari strategi pengelolaan aset dan liabilitas.

Dari sisi arus kas, aktivitas operasi menghasilkan kas bersih Rp2,79 triliun, naik dari Rp2,50 triliun. Namun aktivitas investasi menyerap kas bersih Rp3,43 triliun, terutama untuk pembelian efek-efek senilai Rp13,01 triliun yang hanya sebagian ditutup oleh penjualan dan pencairan efek senilai Rp9,76 triliun. Aktivitas pendanaan hanya mencatat pembayaran liabilitas sewa sebesar Rp11,7 miliar, berbeda dari periode pembanding 2025 yang menerima tambahan modal disetor Rp9,9 miliar dari penerbitan saham insentif. Akibatnya, kas dan setara kas akhir periode turun menjadi Rp2,03 triliun dari Rp2,68 triliun di awal tahun. Jumlah saham tercatat tetap di 33.897.017.650 lembar dengan nilai nominal Rp100 per saham, dan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya masih mencatat defisit Rp546,2 miliar, meski mengecil dari defisit Rp846,1 miliar pada akhir 2025.