Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus tipis US$0,12 miliar, menurut data yang dirilis Kementerian Perdagangan. Angka ini penting karena mengonfirmasi bahwa penopang utama surplus, yaitu perdagangan nonmigas atau produk di luar minyak dan gas, mulai tergerus oleh defisit sektor migas yang melebar. Dengan kata lain, bantalan surplus dagang RI kini jauh lebih tipis dibanding kondisi rata-rata sepanjang tahun ini.

Surplus nonmigas Juli tercatat US$3,10 miliar, tapi hampir seluruhnya terpakai untuk menutup defisit migas sebesar US$2,98 miliar, sehingga sisa surplus total hanya US$0,12 miliar. Secara kumulatif Januari-Juli 2026, Indonesia masih membukukan surplus US$3,70 miliar, yang berasal dari surplus nonmigas US$22,45 miliar dikurangi defisit migas US$18,75 miliar.

Angka BPSNeraca perdagangan
0,12 miliar US$Juli 2026

Selisih ekspor dikurangi impor. Positif berarti surplus. Naik 0,57 miliar US$ dibanding Juni 2026. Posisinya di bawah rata-rata 12 bulan terakhir (2.093,66).

Februari 2024: 0,84 miliar US$Maret 2024: 4,60 miliar US$April 2024: 2,70 miliar US$Mei 2024: 2,94 miliar US$Juni 2024: 2,52 miliar US$Juli 2024: 0,67 miliar US$Agustus 2024: 2,76 miliar US$September 2024: 3,18 miliar US$Oktober 2024: 2,71 miliar US$November 2024: 4,34 miliar US$Desember 2024: 2,09 miliar US$Januari 2025: 3,54 miliar US$Februari 2025: 3,16 miliar US$Maret 2025: 4,30 miliar US$April 2025: 0,20 miliar US$Mei 2025: 4,31 miliar US$Juni 2025: 4,10 miliar US$Juli 2025: 4,18 miliar US$Agustus 2025: 5,57 miliar US$September 2025: 4,20 miliar US$Oktober 2025: 2,37 miliar US$November 2025: 2,70 miliar US$Desember 2025: 2,52 miliar US$Januari 2026: 0,95 miliar US$Februari 2026: 1,27 miliar US$Maret 2026: 3,32 miliar US$April 2026: 0,09 miliar US$Mei 2026: -1,61 miliar US$Juni 2026: -0,45 miliar US$Juli 2026: 0,12 miliar US$FebMeiAguNovFebMeiAguNovFebMeiJul2024202520265.5730-1.610Agustus 2025: 5,57 miliar US$September 2025: 4,20 miliar US$Oktober 2025: 2,37 miliar US$November 2025: 2,70 miliar US$Desember 2025: 2,52 miliar US$Januari 2026: 0,95 miliar US$Februari 2026: 1,27 miliar US$Maret 2026: 3,32 miliar US$April 2026: 0,09 miliar US$Mei 2026: -1,61 miliar US$Juni 2026: -0,45 miliar US$Juli 2026: 0,12 miliar US$AguOktDesFebAprJunJul202520265.5730-1.610

Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Neraca Perdagangan. Diolah The Signal.

Nilai ekspor Juli 2026 mencapai US$26,22 miliar, naik 2,98 persen dibanding Juni dan 6,05 persen dibanding Juli tahun lalu. Ekspor nonmigas menjadi penopang utama dengan nilai US$25,43 miliar, naik 4,25 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan bulanan terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanis yang naik 23,05 persen, tembaga dan barang turunannya naik 21,20 persen, serta pakaian bukan rajutan naik 20,65 persen. Sebaliknya, ekspor logam mulia dan perhiasan turun 45,07 persen, nikel turun 38,25 persen, dan lemak-minyak hewani nabati turun 6,21 persen dibanding Juni.

Secara kumulatif Januari-Juli 2026, ekspor Indonesia mencapai US$167,03 miliar, tumbuh 4,43 persen dibanding periode sama tahun lalu, dengan ekspor nonmigas naik 5,21 persen menjadi US$160,01 miliar. Industri pengolahan menjadi penopang utama dengan kontribusi 82,18 persen dari total ekspor dan pertumbuhan 7,16 persen, disusul sektor pertambangan 11,73 persen, migas 4,20 persen, dan pertanian 1,89 persen. Tiongkok masih menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar, diikuti Amerika Serikat dan India, sementara pertumbuhan ekspor tertinggi terjadi ke Hong Kong (36,79 persen), Turki (30,58 persen), dan Thailand (21,92 persen). Sebaliknya, ekspor ke Singapura turun 11,41 persen, Pakistan turun 4,32 persen, dan Australia turun 3,44 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, nilai impor Juli 2026 mencapai US$26,09 miliar, naik tipis 0,72 persen dibanding Juni tapi melonjak 27,02 persen dibanding Juli tahun lalu. Impor nonmigas naik 4,57 persen menjadi US$22,33 miliar, sementara impor migas turun 17,33 persen menjadi US$3,77 miliar. Kenaikan impor bulanan terutama berasal dari serealia yang naik 78,38 persen, garam-belerang-batu-semen naik 64,53 persen, dan ampas industri makanan naik 31,88 persen, dengan lonjakan impor asal Uni Emirat Arab mencapai 213,23 persen. Secara kumulatif Januari-Juli, impor Indonesia mencapai US$163,33 miliar, melonjak 19,94 persen dibanding tahun lalu, dengan bahan baku dan barang penolong menyumbang 71,45 persen dari total impor dan barang modal 19,88 persen.

Berdasarkan negara mitra, surplus nonmigas terbesar Januari-Juli 2026 disumbang Amerika Serikat US$12,81 miliar, India US$7,96 miliar, Filipina US$4,72 miliar, Malaysia US$3,39 miliar, dan Vietnam US$2,95 miliar. Sebaliknya, defisit nonmigas terdalam tercatat dengan Tiongkok US$17,67 miliar, Australia US$4,41 miliar, Prancis US$1,72 miliar, Kanada US$1,08 miliar, dan Rusia US$1,00 miliar. Dari sisi komoditas, surplus nonmigas kumulatif terutama berasal dari lemak dan minyak hewani nabati US$20,96 miliar, bahan bakar mineral US$16,39 miliar, serta besi dan baja US$10,32 miliar.