PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID) menyampaikan laporan keuangan interim sembilan bulan yang tidak diaudit, untuk periode yang berakhir 30 September 2026, kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia. Laba bersih perusahaan turun 20,7 persen menjadi Rp23,02 miliar, dari Rp29,04 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan usaha juga turun 2,4 persen menjadi Rp121,20 miliar dari Rp124,16 miliar, sementara laba usaha turun 10,9 persen menjadi Rp36,05 miliar. Laba per saham ikut turun dari Rp5,39 menjadi Rp4,28.

Total aset SWID tercatat Rp597,48 miliar per 30 September 2026, naik 18,5 persen dari Rp504,13 miliar di akhir 2025. Namun total liabilitas melonjak lebih tajam, yaitu 36 persen atau bertambah Rp82,40 miliar, dari Rp228,89 miliar menjadi Rp311,29 miliar. Karena kenaikan ini melewati ambang 20 persen, perusahaan wajib mengirim surat penjelasan terpisah ke OJK dan BEI pada 2 November 2026 yang merinci penyebabnya: utang usaha ke pihak ketiga naik menjadi Rp75,08 miliar dari Rp27,92 miliar, utang lain-lain ke pihak berelasi senilai Rp20,30 miliar yang berasal dari pinjaman dengan PT Saraswanti Utama yang sudah diumumkan sejak 5 Mei 2026, utang lain-lain ke pihak ketiga naik menjadi Rp20,30 miliar dari Rp8,95 miliar yang terdiri dari utang dividen ke pemegang saham dan utang bagi hasil kepemilikan kondotel ke pemilik unit, serta deposit pelanggan yang naik menjadi Rp8,94 miliar dari Rp4,03 miliar.

Ekuitas perusahaan naik tipis 4 persen menjadi Rp286,19 miliar, setelah SWID membagikan dividen senilai Rp12,07 miliar, dengan Rp7,67 miliar sudah dibayar tunai dan sisanya tercatat sebagai utang dividen. Di sisi lain, kas dan setara kas justru menyusut 43 persen menjadi Rp5,06 miliar dari Rp8,83 miliar, terutama karena belanja modal Rp88,66 miliar untuk aset tetap, jauh lebih besar dari Rp8,04 miliar tahun lalu, serta uang muka pembelian tanah Rp25,81 miliar. Belanja ini sebagian didanai dari pencairan pinjaman bank jangka panjang baru senilai Rp26,5 miliar, sehingga saldo utang bank jangka panjang naik menjadi Rp154,65 miliar dari Rp128,15 miliar, dan dari arus kas operasi yang melonjak menjadi Rp97,23 miliar dari hanya Rp3,76 miliar pada periode sebelumnya.