PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) menyampaikan tanggapan resmi atas surat permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia Nomor S-11260/BEI.PP2/09-2026 tertanggal 2 September 2026 terkait volatilitas transaksi efek perseroan. Dalam surat bernomor 076/TAP/S-CORSEC-HO/IX/2026 yang ditandatangani Corporate Secretary Joni Tjeng, perseroan menyatakan tidak memiliki atau mengetahui informasi maupun fakta material yang dapat memengaruhi nilai efek atau keputusan investasi pemodal, baik menurut POJK Nomor 31/POJK.04/2015 maupun Peraturan Bursa Nomor I-E. Perseroan juga menyatakan tidak mengetahui adanya aktivitas pemegang saham tertentu sebagaimana diatur POJK Nomor 4 Tahun 2024, dan belum memiliki rencana tindakan korporasi dalam tiga bulan ke depan yang berdampak pada pencatatan sahamnya di bursa.

Poin yang lebih konkret muncul pada bagian keenam surat, mengenai rencana pemegang saham utama. Setelah dikonfirmasi langsung oleh Corporate Secretary, pemegang saham utama TAPG menyatakan tidak memiliki rencana perubahan kepemilikan saham, kecuali rencana sell down atau pelepasan sebagian saham ke publik, yang bertujuan meningkatkan jumlah saham beredar bebas (free float) agar sesuai dengan ketentuan Bursa Efek Indonesia. Perseroan tidak menyebutkan jumlah saham maupun jadwal pelaksanaan sell down tersebut dalam surat ini.

Perseroan turut melampirkan penjelasan tambahan mengenai tren kenaikan harga sahamnya, yang dikaitkan dengan penguatan harga CPO futures di Malaysia dan kinerja ekspor sawit Indonesia. Harga CPO futures Malaysia tercatat di kisaran RM4.816 hingga RM4.958 per ton pada periode 26 Agustus sampai 1 September 2026, naik lebih dari 5 persen dari akhir Juli 2026, dan sempat menyentuh level tertinggi tahun ini di RM5.018 per ton pada 20 Agustus 2026. Perseroan juga mengutip data BPS periode Januari-Juni 2026 yang menunjukkan nilai ekspor produk sawit Indonesia mencapai US$19,45 miliar, tumbuh 12,57 persen dibanding periode sama tahun 2025 sebesar US$17,28 miliar, dengan volume ekspor 16,59 juta ton atau naik 5,79 persen dari 15,68 juta ton, serta harga rata-rata US$1.132 per ton CIF Rotterdam dibanding US$1.088 per ton pada semester satu 2025.