PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menata ulang struktur bisnisnya dengan memecah operasional perusahaan menjadi lima segmen utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, International, serta Others dan Ancillary. Langkah yang disebut delayering ini dipaparkan Direktur Utama Telkom Dian Siswarini dalam Public Expose Live 2026 secara daring, Senin (7/9/2026). Restrukturisasi ini penting bagi investor dan pemegang saham karena menjanjikan laporan kinerja yang lebih rinci per lini bisnis, bukan lagi laporan gabungan seperti selama ini.
Penataan ulang ini merupakan bagian dari transformasi besar bernama TLKM 30, yang bertumpu pada empat pilar yaitu operational and service excellence, streamlining, unlocking value, dan modus-operandi shift. Selain Dian, paparan turut disampaikan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra, Direktur Wholesale and International Service Budi Satria Dharma Purba, Direktur Enterprise and Business Service Veranita Yosephine, serta Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan. Dalam kesempatan yang sama, jajaran direksi juga memaparkan kinerja perusahaan sepanjang semester I 2026 dan arah eksekusi transformasi untuk mengejar target pertumbuhan tahun ini.
Menurut Dian, pemecahan segmen ini adalah tahap transisi menuju model Strategic Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo), yang membuat struktur TelkomGroup lebih terintegrasi dan transparan. Ia menjelaskan setiap segmen bisnis nantinya punya akuntabilitas dan fokus yang lebih jelas pada bisnis intinya masing-masing, dengan visibilitas lebih baik terhadap kinerja, arus kas, dan kebutuhan investasi. Dengan visibilitas itu, manajemen Telkom mengklaim bisa mengambil keputusan strategis lebih cepat, termasuk menentukan ke mana modal dan sumber daya perusahaan perlu diarahkan.
