PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA) menyampaikan laporan keuangan tahunan 2025 yang telah diaudit oleh KAP Irwanto dan Rekan dengan partner penanggung jawab Nino Berlianto. Auditor memberikan opini wajar tanpa pengecualian, tetapi secara khusus mencantumkan paragraf ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha. Grup mencatat rugi bersih Rp259.517.560.260 sepanjang 2025, jauh lebih besar dari rugi Rp23.698.805.720 pada 2024, dengan saldo defisit (akumulasi rugi) mencapai Rp272.407.947.388 per akhir tahun.
Dalam surat penjelasan ke Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia yang ditandatangani Direktur Daniel Tagu Dedo, perseroan melaporkan total ekuitas turun dari Rp310.714.901.637 pada 2024 menjadi Rp51.418.396.896 pada 2025, atau anjlok 83,45%. Penyebab utamanya adalah rugi komprehensif Rp259.296.504.741 yang berasal dari penurunan nilai aset dalam pembangunan sebesar Rp177.367.458.536 akibat tertundanya proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan mini hidro (PLTMH), penurunan nilai goodwill Rp45.496.175.938 dari proyek yang belum beroperasi, beban pajak Rp10.156.443.746, serta kerugian Rp8.289.552.960 dari klaim bank garansi oleh PT PLN (Persero) atas kegagalan pencapaian tanggal operasi komersial (COD) proyek PLTM.
Total aset Grup juga turun dari Rp458.585.036.546 menjadi Rp206.453.987.755, atau susut 54,98%. Selain penurunan nilai aset dalam pembangunan, penurunan aset dipicu oleh deposito yang dibatasi penggunaannya sebagai jaminan bank garansi turun Rp8.291.052.960, goodwill turun Rp45.496.175.938, serta aset lancar lainnya turun Rp11.606.000.000 setelah bank garansi dari Carbon Resilience Pte Ltd Singapura di UOB Bank Jakarta habis masa penjaminannya. Auditor mencatat aset dalam pembangunan senilai Rp177.704.743.864 atau 86,07% dari total aset Grup terkait proyek PLTMH dan PLTA berkapasitas hingga 510,8 megawatt, di mana lima PLTMH sudah memiliki perjanjian jual beli listrik dan dua PLTA baru mengantongi izin prinsip dan izin lokasi, sementara Grup masih mengupayakan pendanaan dari pihak ketiga.
Rugi per saham dasar melebar dari Rp8,60 pada 2024 menjadi Rp94,29 pada 2025. Grup tidak mencatat pendapatan usaha pada kedua tahun tersebut, dan jumlah liabilitas jangka pendek per akhir 2025 telah melampaui aset lancarnya sebesar Rp150.403.183.483.
