Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional turun ke 4,65% pada 2026. Angka ini mendekati titik terendah dalam catatan sejak 1994, saat TPT berada di 4,36%, dan menjadi salah satu indikator yang dipantau pemerintah untuk menilai kondisi pasar kerja serta kesejahteraan masyarakat secara luas.

Capaian ini menjadi lebih berarti karena basis angkatan kerja Indonesia kini jauh lebih besar dibanding tiga dekade lalu. Pada 2026, jumlah angkatan kerja tercatat 155,41 juta orang, hampir dua kali lipat dari sekitar 83,32 juta orang pada era 1990-an. Secara historis, TPT pernah melonjak ke 11,24% pada 2005 akibat tekanan pasca krisis moneter, dan ke 7,07% pada 2020 saat pandemi Covid-19 menekan lapangan kerja, sebelum kembali turun secara bertahap hingga level saat ini.

Angka BPSTingkat pengangguran terbuka
4,68%Februari 2026

Bagian angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan. Turun 0,17 poin dibanding Agustus 2025. Terendah dalam 5 periode yang tercatat.

Februari 2024: 4,82%Agustus 2024: 4,91%Februari 2025: 4,76%Agustus 2025: 4,85%Februari 2026: 4,68%FebAguFebAguFeb2024202520264,914,68Februari 2024: 4,82%Agustus 2024: 4,91%Februari 2025: 4,76%Agustus 2025: 4,85%Februari 2026: 4,68%FebAguFebAguFeb2024202520264,914,68

Sumber: Badan Pusat Statistik, Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Provinsi. Diolah The Signal.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyebut capaian TPT 4,65% ini sebagai hasil dari program dorongan sektor riil dan investasi yang menurutnya membantu menyerap kebutuhan pasar kerja. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan melanjutkan program pelatihan vokasi dan peningkatan keterampilan atau upskilling, dengan menyasar tidak hanya pada rendahnya angka pengangguran, tetapi juga kualitas penyerapan tenaga kerja.