PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) menyampaikan tanggapan resmi atas permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia tertanggal 2 November 2026, terkait laporan keuangan interim per 30 September 2026 yang diserahkan tidak lengkap. BEI mencatat perseroan hanya menyerahkan laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi komprehensif sepanjang tiga halaman, tanpa surat pernyataan direksi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, maupun catatan atas laporan keuangan. Dalam surat bernomor 181/TD/XI/2026 yang diteken Direktur Utama Yohanes Eddy Christianto pada 4 November 2026, perseroan mengaku kelalaian itu disebabkan kesalahan manusia atau human error dalam penyajian data internal, dan berjanji melengkapi laporan tersebut lewat portal SPEIDXNet.

BEI juga mempertanyakan data yang menunjukkan penjualan kuartal III 2026 seolah negatif Rp4,02 miliar, karena penjualan sembilan bulan tercatat Rp20,75 miliar, lebih rendah dari penjualan enam bulan yang sudah Rp24,77 miliar. Triniti Dinamik membantah ada penurunan penjualan atau pembatalan unit yang sudah diserahterimakan pada kuartal tersebut, dan menyebut angka yang disajikan sebelumnya keliru akibat kesalahan teknis penarikan data. Perseroan memberikan rincian penjualan per kuartal: segmen The Smith mencatat Rp4,06 miliar di kuartal I, Rp7,48 miliar di kuartal II, dan Rp17,71 miliar di kuartal III, sementara segmen pengelolaan gedung mencatat Rp8,71 miliar, Rp17,29 miliar, dan Rp26,05 miliar pada tiga kuartal yang sama. Yang mencolok, dalam tabel beban pokok penjualan yang disertakan, biaya untuk segmen The Smith di kuartal III justru tertulis sama persis dengan angka penjualannya sendiri, Rp17,71 miliar, menambah daftar ketidakcermatan dalam laporan perseroan.

Selain itu, BEI menyoroti pergerakan tajam pada sejumlah pos neraca sepanjang kuartal III 2026: piutang lain-lain turun dari Rp76,75 miliar menjadi Rp5,62 miliar, uang muka proyek melonjak dari Rp97,54 miliar menjadi Rp278,55 miliar, persediaan aset real estat turun dari Rp409,04 miliar menjadi Rp348,24 miliar, uang muka penjualan naik dari Rp84,27 miliar menjadi Rp159,57 miliar, dan utang usaha melompat dari Rp12,56 miliar menjadi Rp81,40 miliar. Utang kepada tiga pihak berelasi, PT Agung Perkasa Investindo, PT Panca Agung Gemilang, dan PT Valtos Globalindo, senilai total Rp67,60 miliar yang tercatat per 30 Juni 2026 juga hilang dari laporan per 30 September 2026. Untuk seluruh pertanyaan rinci ini, jawaban perseroan tetap sama, yakni mengakui human error dan berjanji mengoreksi lewat SPEIDXNet, tanpa menjelaskan rincian mutasi atau penyelesaian utang yang diminta bursa.

Secara kinerja, rugi bersih Triniti Dinamik melebar 63,82 persen menjadi Rp28,21 miliar sepanjang sembilan bulan 2026 dari Rp17,22 miliar pada periode sama tahun lalu, dengan ekuitas turun menjadi Rp195,98 miliar, liabilitas jangka pendek naik menjadi Rp313,65 miliar, dan kas hanya Rp9,14 miliar. Perseroan mengakui masih menunggak pembayaran pokok dan bunga ke Bank Panin atas pinjaman jangka pendek Rp64,64 miliar, sementara pembayaran ke Bank BTN atas pinjaman Rp218,66 miliar berjalan lancar tanpa tunggakan, dengan jatuh tempo yang dikoreksi dari semula tertulis 22 Agustus 2027 menjadi 22 Agustus 2030. Dukungan pendanaan dari pemegang saham pengendali disebut masih sebatas komunikasi dan koordinasi tanpa bentuk atau kepastian konkret, dan rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu masih dalam pembahasan internal. Di luar itu, BEI juga menemukan laporan versi PDF dan versi XBRL yang diserahkan bersamaan saling berbeda, misalnya total aset Rp732,33 miliar di PDF berbanding Rp675,65 miliar di XBRL dan kas Rp9,14 miliar berbanding Rp7,17 miliar, bahkan laporan arus kas XBRL untuk sembilan bulan ternyata identik dengan laporan arus kas enam bulan sebelumnya, serta saldo komparatif akhir 2025 yang juga berbeda dari laporan auditan tanpa rencana penyajian kembali.