Sebuah usaha pengolahan kayu di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, bernama Citra Fajar Utama (CFU) tumbuh dari bengkel penggergajian yang disewa pemiliknya, Doddik Sulistiono, pada 1998 menjadi eksportir produk kayu ke sejumlah negara di Asia, Eropa, dan Afrika. Selain menembus pasar luar negeri, CFU kini juga menjadi pemasok perlengkapan interior untuk hampir 900 gerai kopi Starbucks di Indonesia. Kisah ini menunjukkan bahwa usaha kecil di daerah punya peluang masuk ke rantai pasok internasional maupun rantai pasok perusahaan multinasional, asal mampu menjaga standar kualitas produk.
Doddik memulai usahanya dengan menyewa tempat penggergajian di Klaten pada 1998, lalu baru mampu membeli lahan dan membangun pabrik sendiri pada 2012. Ekspor perdana CFU justru terjadi lebih awal, yaitu pada 2005, berupa produk lantai kayu (flooring) yang dikirim ke Taiwan. Dari sana, pasar ekspornya meluas ke Tiongkok dan Eropa, yang kini menjadi pasar terbesar CFU, ditambah satu proyek di Ghana. Perusahaan ini juga tengah menjajaki pasar baru di Eropa Timur, Amerika Serikat, dan Amerika Latin, dengan produk yang makin beragam mulai dari kerajinan kayu, furnitur berbahan kayu jati, hingga finger-joint laminated board.
Hubungan CFU dengan gerai-gerai kopi bermula dari sebuah pameran domestik pada 2015, ketika perusahaan ini menawarkan bahan finger-joint laminated board. Peluang itu berlanjut pada 2016, saat CFU mendapat pesanan membuat meja untuk sebuah gerai Starbucks di kawasan Menteng, Jakarta, dengan masa uji coba enam bulan untuk memastikan produknya tidak mudah rusak. Doddik dan timnya memperkuat kualitas lem serta keterampilan pekerja agar lolos uji tersebut, dan setelah berhasil, CFU dipercaya mengerjakan kebutuhan gerai Starbucks lain hingga totalnya kini mencapai hampir 900 gerai.
Doddik menyebut perjalanan menembus pasar ekspor tidak selalu mulus, salah satunya karena perubahan regulasi yang bisa memengaruhi biaya dan waktu pengiriman. Ia berharap Kementerian Perdagangan menyederhanakan aturan ekspor serta memperbanyak pelatihan yang sesuai kebutuhan industri kayu, mengingat pengembangan sektor ini melibatkan sinergi berbagai kementerian. Di luar capaian ekspornya, Doddik menyebut sebagian besar tenaga kerja CFU berasal dari warga sekitar pabrik di Klaten, sehingga pertumbuhan usahanya juga membuka lapangan kerja di daerah tersebut.
