PT United Tractors Tbk (UNTR) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia menyusul permintaan penjelasan BEI nomor S-12723/BEI.PP1/10-2026 tanggal 6 Oktober 2026 atas laporan keuangan semester I 2026. Dalam surat bernomor 369/CORP/9981/X/26 yang ditandatangani Corporate Secretary Ari Setiyawan, perseroan menjelaskan pendapatan bersih turun 14,9 persen menjadi Rp58,29 triliun dari sebelumnya Rp68,53 triliun, terutama akibat penjualan alat berat kepada pihak ketiga yang turun 30,9 persen menjadi Rp12,87 triliun dan penjualan emas serta mineral lain yang turun 66,2 persen menjadi Rp2,36 triliun. Laba bruto ikut tergerus 30 persen menjadi Rp10,51 triliun, sementara laba periode berjalan anjlok 91,1 persen menjadi Rp742,2 miliar dan laba yang menjadi hak pemegang saham turun 88,2 persen menjadi Rp956,3 miliar.
Penurunan laba juga dipicu kerugian penurunan nilai sebesar Rp2,75 triliun atas investasi dan pinjaman pemegang saham di ventura bersama PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD), proyek panas bumi yang digenggam lewat anak usaha PT Energia Prima Nusantara. Nilai investasi saham Rp1,47 triliun dan pinjaman subordinasi Rp1,28 triliun kini tercatat nihil, setelah kapasitas produksi SERD merosot dari target awal sekitar 90 megawatt menjadi hanya 50-55 megawatt pada Juni 2026 akibat penurunan steam generation dari sumur produksi. Perseroan menegaskan pembayaran bunga dan pokok pinjaman SERD ke kreditur tetap terpenuhi hingga 30 Juni 2026, realisasi penyerahan listrik ke pembeli mendekati 100 persen dari kewajiban kontraktual 90 persen, dan belum ada potensi arus kas keluar tambahan dari komitmen yang berlaku.
Soal buyback saham, UNTR melaporkan penambahan saham tresuri 79.635.500 lembar senilai Rp2,22 triliun pada Januari-Juni 2026, disusul 57.974.100 lembar senilai Rp1,42 triliun pada Juli-September 2026 atau setara 71,2 persen dari anggaran periode itu yang sebesar Rp2,0 triliun. Perseroan menyebut realisasi yang tidak penuh karena pembelian hanya dilakukan pada level harga yang dianggap wajar di tengah volatilitas pasar. Buyback tahap berikutnya senilai hingga Rp2,0 triliun direncanakan berjalan Oktober-Desember 2026 memakai kas internal, yang jika terserap penuh membawa total buyback 2026 ke sekitar Rp5,6 triliun dan porsi saham tresuri ke sekitar 10,1 persen dari modal ditempatkan dan disetor.
Perseroan juga mengungkap tarif pajak efektif melonjak ke 62,9 persen dari 24,0 persen tahun sebelumnya, akibat biaya yang tidak bisa dikurangkan secara fiskal, termasuk penurunan nilai pinjaman dan investasi SERD serta pembayaran Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan di tambang nikel Stargate. Di sisi kas, posisi kas dan setara kas turun 29,8 persen menjadi Rp18,65 triliun dan arus kas operasi anjlok 79,1 persen menjadi Rp2,38 triliun, sementara total pinjaman bank naik 53,5 persen menjadi Rp25,02 triliun dengan porsi jatuh tempo dalam setahun membengkak menjadi Rp14,14 triliun dari Rp9,68 triliun. Perseroan menyatakan seluruh financial covenant atas fasilitas pinjaman masih terpenuhi tanpa pelanggaran atau waiver, dan pelunasan utang jatuh tempo akan memakai kombinasi dana internal dan eksternal.
