PT United Tractors Tbk (UNTR) melaporkan pendapatan bersih konsolidasian Rp90,3 triliun untuk sembilan bulan pertama 2026, turun 10 persen dari Rp100,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp4,465 triliun, turun 61 persen dari Rp11,475 triliun, sehingga laba bersih per saham ikut turun dari Rp3.160 menjadi Rp1.273. Jika pos non-recurring dikeluarkan, penurunan laba sebenarnya lebih moderat, 31 persen, menjadi Rp7,925 triliun, dengan penyebab utama alokasi RKAB (rencana produksi) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah dan merosotnya penjualan emas.

Sepanjang sembilan bulan ini, Perseroan mencatat beban non-recurring sekitar Rp3,5 triliun, terutama berasal dari penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait kegiatan masa lalu di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan di Tambang Nikel Stargate. Per 30 September 2026, Perseroan berada pada posisi utang bersih Rp4,6 triliun dengan rasio gearing 4,2 persen, berbalik dari posisi kas bersih Rp7,7 triliun pada akhir 2025. Perubahan ini terutama didorong oleh akuisisi perusahaan tambang emas dan program pembelian kembali saham yang menyedot kas Rp3,64 triliun, sehingga saham tresuri Perseroan membesar dari Rp4,9 triliun menjadi Rp8,54 triliun. Perseroan juga telah membagikan dividen tunai final 2025 sebesar Rp3,865 triliun kepada pemegang saham pemilik entitas induk.

Secara segmen, unit usaha Alat Berat mencatat penurunan penjualan unit Komatsu 17 persen menjadi 3.026 unit, dengan penjualan ke sektor pertambangan turun paling dalam, 48 persen menjadi 481 unit, sehingga pendapatan segmen ini turun 19 persen menjadi Rp23,6 triliun. Berbeda arah, unit usaha Kontraktor Penambangan yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara dan PT Kalimantan Prima Persada justru mencatat kenaikan pendapatan 11 persen menjadi Rp44,5 triliun karena penguatan kurs dolar AS, meskipun volume pemindahan tanah turun 7 persen menjadi 766 juta bcm dan produksi batu bara untuk klien turun 3 persen menjadi 106 juta ton. Segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi melalui PT Tuah Turangga Agung mencatat penurunan volume penjualan batu bara 23 persen menjadi 7,1 juta ton sehingga pendapatannya turun 15 persen menjadi Rp15,9 triliun, sementara segmen emas dan mineral lain melalui PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencatat penjualan emas yang merosot dari 178 ribu ons menjadi hanya 54 ribu ons akibat penghentian sementara operasi Tambang Emas Martabe yang baru kembali berjalan pada kuartal kedua 2026, membuat pendapatan segmen ini turun 53 persen menjadi Rp4,9 triliun.