PT United Tractors Tbk (UNTR) memaparkan kinerja keuangan semester pertama 2026 dalam Public Expose Live 2026 yang digelar BEI pada 7 September 2026, dihadiri Presiden Direktur Iwan Hadiantoro, jajaran direksi, dan Sekretaris Perusahaan Ari Setiyawan. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp58,3 triliun, turun 15 persen dari Rp68,5 triliun pada periode sama 2025. Laba bersih tidak termasuk item non-recurring turun 48 persen menjadi Rp4,3 triliun, sedangkan laba bersih setelah memperhitungkan item non-recurring anjlok 88 persen menjadi Rp956 miliar dari Rp8,13 triliun. Laba per saham ikut turun tajam dari Rp2.239 menjadi Rp271. Manajemen menyebut penurunan ini terutama dipicu penjualan emas yang lebih rendah dari tambang Martabe milik PT Agincourt Resources, serta pelemahan segmen Alat Berat dan Batu Bara Termal dan Metalurgi akibat alokasi RKAB batu bara nasional 2026 yang lebih kecil, yang sebagian diimbangi kenaikan pendapatan segmen Kontraktor Penambangan karena penguatan kurs dolar AS.
Item non-recurring senilai Rp3,3 triliun berasal dari dua hal: pencatatan penurunan nilai (impairment) penuh atas investasi UNTR di PT Supreme Energy Rantau Dedap, proyek panas bumi dengan kepemilikan UT sekitar 40 persen, setelah realisasi kapasitas pembangkitnya hanya 50-52 Megawatt dari target awal 90 Megawatt; dan pembayaran terkait kegiatan di kawasan hutan sehubungan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan di Tambang Nikel Stargate. Direktur Vilihati Surya menegaskan Perseroan tidak akan menambah modal atau pinjaman pemegang saham ke proyek Rantau Dedap maupun investasi panas bumi lain ke depan. Posisi keuangan UNTR pun berbalik dari kas bersih Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025 menjadi utang bersih Rp9,4 triliun per 30 Juni 2026 dengan rasio gearing 8,5 persen, terutama akibat akuisisi perusahaan tambang emas dan program pembelian kembali saham.
Di segmen Alat Berat, penjualan unit Komatsu sampai Juli 2026 turun 23 persen menjadi 2.393 unit, dengan penjualan big machine tambang anjlok 49 persen menjadi 405 unit, sehingga total pendapatan segmen ini turun 28 persen menjadi Rp15,0 triliun meski pendapatan suku cadang dan jasa pemeliharaan naik tipis 1 persen menjadi Rp5,5 triliun. Segmen Kontraktor Penambangan melalui PAMA dan KPP Mining mencatat volume pemindahan tanah turun 10 persen menjadi 573 juta bcm dan produksi batu bara klien turun 3 persen menjadi 80 juta ton, namun pendapatannya tetap naik 4 persen menjadi Rp27,2 triliun. Segmen Batu Bara Termal dan Metalurgi melalui Tuah Turangga Agung mencatat penjualan 6,5 juta ton batu bara, turun 18 persen, setelah RKAB awal 15 juta ton direvisi turun menjadi 7,5 juta ton pada April 2026, dengan realisasi 75 persen kuota sudah terpakai di semester pertama sehingga menekan penjualan Juli. Perseroan telah mendapat persetujuan revisi RKAB baru dengan target 9,9 juta ton dari tambang sendiri, plus proyeksi total penjualan batu bara FY2026 sebesar 12,1 juta ton termasuk coal trading. Segmen Emas dan Mineral Lainnya mencatat pendapatan anjlok 66 persen menjadi Rp2,4 triliun setelah penjualan emas turun 82 persen menjadi 32 ribu ons dari 143 ribu ons tahun lalu, dengan target penjualan emas sepanjang 2026 di kisaran 60.000-65.000 ons.
Perseroan menyelesaikan program pembelian kembali saham periode 1 April hingga 30 Juni 2026 sebanyak 35,5 juta lembar, dan kini menjalankan program baru senilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Juli sampai 30 September 2026. Secara akumulatif sejak Juli 2022, UNTR telah membeli kembali 239 juta saham senilai sekitar Rp7,1 triliun. Pada 11 Februari 2026, UNTR melalui anak usahanya PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara merampungkan akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas di Sulawesi Utara, dengan target produksi komersial mulai 2029. Anak usaha lain, PT Energia Prima Nusantara, juga memegang 21 persen saham dalam konsorsium proyek pembangkit listrik tenaga sampah Legok Nangka berkapasitas sekitar 40 Megawatt yang dipimpin Sumitomo Corporation, dengan konstruksi ditargetkan mulai tahun depan dan rampung 2030. Manajemen memproyeksikan kinerja membaik pada semester kedua 2026 seiring revisi RKAB batu bara, pemulihan Martabe, dan penjualan alat berat.
