PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR), perusahaan induk Ultra Voucher, mengumumkan rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 200.000.000 saham biasa baru bernilai nominal Rp20 per saham, atau setara maksimal 10 persen dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Berdasarkan Daftar Pemegang Saham per 31 Agustus 2026, total saham beredar UVCR saat ini adalah 2.000.144.838 lembar. Rencana ini masih memerlukan persetujuan Pemegang Saham Independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada Selasa, 27 Oktober 2026, serta persetujuan pencatatan tambahan saham dari Bursa Efek Indonesia.
Komposisi pemegang saham UVCR saat ini terdiri dari PT Trimegah Sumber Mas sebagai pemegang saham utama dengan 623.557.467 saham (31,18 persen), masyarakat dengan 1.246.818.871 saham (62,34 persen), Direktur Riky Boy H. Permata dengan 81.500.000 saham (4,07 persen), Direktur Utama Hady Kuswanto dengan 47.432.400 saham (2,37 persen), dan Komisaris Rangga Ananta dengan 836.100 saham (0,04 persen). Perusahaan menyatakan harga pelaksanaan saham baru akan ditetapkan Direksi mengacu pada aturan Bursa Efek Indonesia yang berlaku saat permohonan pencatatan diajukan, dengan target eksekusi 3 sampai 6 bulan setelah RUPSLB dan paling lambat 2 tahun sejak tanggal RUPSLB.
Dana hasil PMTHMETD akan dipakai untuk kebutuhan modal kerja operasional perdagangan voucher digital dan layanan teknologi, pengembangan produk dan kapasitas operasional, serta kegiatan pemasaran dan akuisisi pelanggan. Dari sisi keuangan, penjualan neto perseroan naik dari Rp441,4 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp628,9 miliar pada semester I 2026, dengan laba neto melonjak dari Rp1,19 miliar menjadi Rp8,37 miliar pada periode yang sama. Namun arus kas dari aktivitas operasi justru minus Rp57,09 miliar pada semester I 2026, memburuk dibanding minus Rp23,66 miliar pada semester I 2025, sementara ekuitas perseroan tercatat Rp110,99 miliar per 30 Juni 2026, naik dari Rp103,62 miliar di akhir 2025.
