PT Victoria Insurance Tbk (VINS) melaporkan laba bersih sebesar Rp17,83 miliar untuk sembilan bulan pertama 2026, naik 55,8 persen dari Rp11,45 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham dasar ikut naik dari Rp7,84 menjadi Rp12,21. Kenaikan ini didorong oleh pendapatan jasa asuransi yang tumbuh 30,5 persen menjadi Rp122,14 miliar, sementara beban klaim justru turun dari Rp28,06 miliar menjadi Rp24,98 miliar. Hasil jasa asuransi, yakni selisih antara pendapatan premi dengan beban klaim dan reasuransi, naik 31,9 persen menjadi Rp20,42 miliar.
Meski laba akuntansi tumbuh, total ekuitas perusahaan hanya naik tipis dari Rp232,11 miliar menjadi Rp237,90 miliar karena nilai investasi obligasi yang dipegang perusahaan tergerus. Perusahaan mencatat sebagian investasinya dalam skema yang mengharuskan perubahan harga pasar obligasi dibukukan langsung ke ekuitas, bukan ke laba rugi. Karena harga obligasi turun sepanjang sembilan bulan ini, pos tersebut berubah dari untung Rp5,34 miliar menjadi rugi Rp6,70 miliar, tergerus Rp12,04 miliar. Akibatnya, total laba komprehensif, yaitu laba bersih ditambah seluruh perubahan nilai aset itu, hanya Rp5,79 miliar, jauh lebih kecil dibanding Rp65,35 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Arus kas dari aktivitas operasi juga menyusut tajam dari Rp8,61 miliar menjadi Rp796,24 juta, menandakan kas yang benar-benar diterima perusahaan dari bisnis asuransinya jauh lebih kecil dari laba yang tercatat di atas kertas.
Dalam surat terpisah ke Bursa Efek Indonesia yang juga diteken Direktur Utama Suwandi Suharto pada 28 Oktober 2026, manajemen menjelaskan sejumlah pos aset dan liabilitas yang berubah lebih dari 20 persen dibanding akhir 2025. Aset kontrak asuransi naik Rp31,7 miliar karena proyeksi arus kas dari kontrak asuransi properti (COB Property) meningkat. Di sisi liabilitas, kewajiban neto dari kontrak asuransi turun Rp3,5 miliar, hasil dari turunnya cadangan klaim dalam proses sebesar Rp19 miliar yang ternyata sudah terealisasi, dikurangi kenaikan Rp15,5 miliar pada komponen premi yang belum merupakan pendapatan akibat penambahan masa pertanggungan polis baru. Sebaliknya, liabilitas ke perusahaan reasuransi naik Rp29,6 miliar karena kewajiban premi kepada reasuradur bertambah, sementara biaya yang masih harus dibayar turun Rp1,1 miliar setelah perusahaan membayar jasa audit dan aktuaris.
