PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) menyampaikan rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) untuk melunasi utang lewat konversi menjadi saham. Berdasarkan keterbukaan informasi tertanggal 9 Oktober 2026, Perseroan akan menerbitkan saham baru seri C sebanyak-banyaknya 43.087.334.600 lembar dengan nilai nominal Rp40 per saham, untuk melunasi Utang PKPU sebesar Rp1.723.493.387.881 kepada dua kreditur, yaitu PT Mandara Sentra Perdana (MSP) dan PT Bina Aksara Muliatama (BAM). Skema ini mengacu pada Perjanjian Konversi Utang VIVA-BAM dan VIVA-MSP yang diteken 15 Desember 2025, dan menurut Perseroan tujuannya adalah memperbaiki posisi keuangan.

Utang tersebut berasal dari Senior Facility yang diterima entitas anak VIVA, PT Cakrawala Andalas Televisi (CAT) dan PT Lativi Mediakarya (LM), dengan VIVA sebagai penjamin sejak 2017. Setelah proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang dihomologasi Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 8 November 2024, sisa utang Senior Facility sebesar US$125,43 juta dikonversi ke rupiah menjadi Rp2,07 triliun. Dari jumlah itu, Rp1,94 triliun dialihkan menjadi utang langsung Perseroan kepada MSP dan BAM lewat perjanjian novasi tertanggal 2 Desember 2025 dan 15 Juni 2026, dan Rp1,72 triliun di antaranya yang kini akan dilunasi lewat konversi menjadi saham baru.

Saham baru tersebut akan diambil dari portepel, yaitu saham simpanan yang belum pernah diterbitkan, melalui konversi sebagian saham seri A dan seluruh saham seri B yang masih tersisa di portepel sebanyak 23,89 miliar lembar. Sebagai pembanding, total saham VIVA yang beredar per 30 Juni 2026 baru 16,46 miliar lembar, sehingga penerbitan maksimal 43,09 miliar saham baru ini setara lebih dari 2,6 kali jumlah saham yang beredar saat ini. Pemegang saham pengendali, PT Bakrie Global Ventura, saat ini menggenggam 5,42 miliar saham seri A atau 32,94 persen dari kelas saham tersebut.

Dari sisi kinerja, ekuitas Perseroan per 30 Juni 2026 tercatat Rp496,1 miliar, naik dari Rp361,6 miliar pada akhir 2025, sementara total liabilitas mencapai Rp5,84 triliun. Laba bersih semester I 2026 turun tajam menjadi Rp65,58 miliar dari Rp1,19 triliun pada periode sama tahun lalu, sehingga laba bersih per saham dilusian ikut anjlok dari Rp72,46 menjadi Rp3,98. Arus kas dari aktivitas operasi masih positif Rp46,53 miliar, naik dari Rp33,16 miliar pada semester I 2025.