PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Laporan ini telah direviu secara terbatas oleh KAP Purwanto Susanti dan Surja, anggota jaringan Ernst & Young Global, dengan kesimpulan wajar tanpa pengecualian yang diterbitkan pada 28 Agustus 2026.

Pendapatan neto perseroan naik dari Rp1,37 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp1,95 triliun pada semester I 2026. Namun laba kotor justru turun dari Rp176,32 miliar menjadi Rp139,74 miliar, dan laba usaha turun dari Rp53,20 miliar menjadi Rp34,67 miliar. Beban keuangan naik dari Rp20,31 miliar menjadi Rp23,95 miliar. Akibatnya, laba tahun berjalan anjlok dari Rp22,44 miliar menjadi hanya Rp1,02 miliar, turun sekitar 95 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Di sisi permodalan, jumlah saham beredar WBSA bertambah dari 6,875 miliar lembar menjadi 8,675 miliar lembar dengan nilai nominal tetap Rp40 per saham, sehingga nilai modal saham naik dari Rp275 miliar menjadi Rp347 miliar. Tambahan modal disetor melonjak dari Rp1,14 miliar menjadi Rp176,05 miliar. Pos ekuitas entitas yang bergabung, yang tercatat Rp187,07 miliar per akhir 2025, kini menjadi nol, menandakan proses penggabungan entitas anak ke struktur permodalan induk telah dituntaskan dan direklasifikasi menjadi modal saham serta tambahan modal disetor. Total ekuitas perseroan naik dari Rp538,68 miliar menjadi Rp617,85 miliar.

Total aset WBSA tercatat naik dari Rp1,60 triliun menjadi Rp1,72 triliun, dengan kas dan bank bertambah dari Rp149,91 miliar menjadi Rp231,04 miliar. Di sisi liabilitas, pinjaman bank jangka pendek turun tajam dari Rp146,97 miliar menjadi Rp20,96 miliar, namun muncul pos pinjaman jangka panjang baru senilai Rp134,78 miliar.