PT Wijaya Karya (Persero) Tbk menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 kepada OJK pada 28 Agustus 2026. Laporan ini ditelaah secara terbatas oleh Kantor Akuntan Publik Slamet Riyanto, Aryanto & Rekan dengan partner penanggung jawab Slamet Riyanto, dan memperoleh opini wajar tanpa modifikasian tertanggal 27 Agustus 2026. Surat penyampaian ditandatangani oleh Corporate Secretary WIKA, Ngatemin.

Angka yang paling mencolok ada di ekuitas. Total ekuitas WIKA anjlok dari Rp1,69 triliun pada akhir Desember 2025 menjadi tinggal Rp130,16 miliar pada 30 Juni 2026, akibat rugi bersih Rp1,55 triliun sepanjang semester pertama. Rugi ini sebenarnya sedikit membaik dibanding periode sama tahun lalu yang minus Rp1,71 triliun, dan pendapatan bersih naik dari Rp5,86 triliun menjadi Rp6,28 triliun, dengan laba usaha melonjak dari Rp133,27 miliar menjadi Rp314,66 miliar. Namun kinerja operasional yang membaik itu tetap tertekan beban keuangan Rp1,31 triliun dan rugi bagian pengendalian bersama sebesar Rp721,41 miliar, naik dari Rp542,31 miliar tahun sebelumnya. Rugi per saham dasar tercatat Rp37,17, dari sebelumnya Rp41,71. Defisit akumulasi perseroan membengkak menjadi Rp20,77 triliun dari Rp19,29 triliun.

Struktur utang WIKA juga bergeser dari jangka pendek ke jangka panjang. Liabilitas jangka pendek turun dari Rp15,51 triliun menjadi Rp12,92 triliun, sementara liabilitas jangka panjang naik dari Rp32,95 triliun menjadi Rp35,90 triliun. Secara rinci, porsi obligasi jangka pendek turun tajam dari Rp1,44 triliun menjadi Rp197 miliar dan sukuk jangka pendek dari Rp1,12 triliun menjadi Rp91,5 miliar, sedangkan obligasi jangka panjang naik dari Rp6,55 triliun menjadi Rp7,79 triliun dan sukuk jangka panjang naik dari Rp1,15 triliun menjadi Rp2,18 triliun. Pergeseran ini sejalan dengan rangkaian RUPSU sukuk yang digelar WIKA pekan ini, saat perseroan meminta pemegang sukuk menyetujui penundaan jatuh tempo pembayaran.