PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) menggelar Public Expose Live 2026 secara virtual melalui Zoom pada Rabu, 9 September 2026 pukul 15.00 WIB, dihadiri 110 peserta di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan, serta dimoderatori oleh Fajar Wayong yang ditunjuk Bursa Efek Indonesia. Seluruh jajaran direksi hadir, yaitu Kuntjara selaku Direktur Utama, Rija Judaswara selaku Direktur Pemasaran dan Pengembangan, Syailendra Ogan selaku Direktur Keuangan, Human Capital dan Manajemen Risiko, Verly Widiantoro selaku Direktur Teknik dan Produksi, serta Ignatius Harry Sumartono selaku Corporate Secretary yang membawakan paparan profil perusahaan, ikhtisar keuangan per Juli 2026, strategi, dan inisiasi ESG.
Dalam sesi tanya jawab, Kuntjara mengungkapkan margin laba bersih kuartal II 2026 hanya 0,07%, jauh dari target margin laba kotor di kisaran 6%, akibat penjualan yang tertekan seiring kontraksi industri konstruksi sementara beban tetap pabrik tetap berkisar 3-4% dari penjualan. Untuk memperbaiki kinerja semester II, manajemen menyebut langkah penggabungan unit usaha, perampingan organisasi, pemulihan piutang lama, perbaikan rasio perputaran piutang dan persediaan, serta efisiensi di 13 pabrik agar utilisasi produksi tidak jatuh di bawah 50%. Realisasi kontrak baru per Juli 2026 tercatat Rp2,27 triliun, dengan proyek senilai sekitar Rp1,5 triliun masih dalam tahap penawaran dan negosiasi, sehingga manajemen membidik target akhir tahun di kisaran Rp3,8 hingga Rp4 triliun. Syailendra Ogan menambahkan bahwa arus kas operasional tetap positif sehingga kebijakan dividen 10 hingga 30% dari laba dapat dipertahankan, dan investasi perusahaan dibiayai dari kas internal, bukan utang baru.
Direktur Teknik dan Produksi Verly Widiantoro memaparkan inovasi rumah pracetak WHome yang bisa selesai dibangun dalam 2 hari dan lengkap furnitur dalam 10-15 hari, tahan gempa, bisa dikembangkan ke atas atau ke samping, serta menggunakan bahan ramah lingkungan. Perseroan juga mengembangkan produk beton generasi baru yang bisa dikirim dan dipakai dalam 5 hari, dibandingkan 14-28 hari untuk beton standar, ditambah beton Geopolimer, beton AAC, dan beton fast screed yang siap pakai dalam 8 jam untuk pekerjaan perbaikan. Perusahaan menyebut skor ESG-nya saat ini 71, masuk 13% teratas secara global untuk sektor manufaktur industri, peringkat pertama di sektor material konstruksi Indonesia, kedua di antara perusahaan terbuka Indonesia, dan ketiga di antara BUMN. Untuk proyek 2027, manajemen membidik proyek yang sejalan dengan program pemerintah seperti Giant Sea Wall, pengembangan gas di Maluku, hilirisasi Smelter Grade Alumina, dan kelanjutan proyek jalan tol di wilayah Jakarta.
