PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) menyampaikan materi Public Expose Tahunan kepada Bursa Efek Indonesia pada 4 September 2026, ditandatangani secara elektronik oleh Sekretaris Perusahaan Ignatius Harry Sumartono. Materi ini disiapkan untuk acara Public Expose Live yang dijadwalkan berlangsung 9 September 2026 dan disiarkan langsung melalui IDX Channel, berisi presentasi perusahaan dan siaran pers resmi.

Dalam materi tersebut, WIKA Beton melaporkan perolehan kontrak baru sebesar Rp2,27 triliun hingga Juli 2026, dengan sektor infrastruktur menyumbang 58,83 persen, disusul industri 17,18 persen dan properti 8,49 persen. Dari sisi sumber dana, swasta menyumbang 37,70 persen, pemerintah 32,21 persen, BUMN 23,53 persen, dan luar negeri 6,56 persen. Sepuluh pelanggan terbesar berdasarkan kontrak baru meliputi PT Perusahaan Listrik Negara (9,25%), PT OKI Pulp & Paper Mills (5,75%), KSO Hutama-Abipraya (4,40%), PT Mustika Indah Permai (3,28%), PT Pembangunan Perumahan Tbk (3,12%), KSO WIKA-PP-KMK-HKI (2,73%), KSO WIKA-PMJ (2,63%), KSO HK-WIKA-BAP (2,36%), PT Total Persada Indonesia (2,19%), dan PT Wijaya Karya Rekayasa Konstruksi (2,10%). Untuk pendapatan usaha kuartal kedua 2026, perusahaan membukukan Rp1,48 triliun, dengan kontribusi terbesar dari beton putar (47,91%), beton non-putar (34,44%), konstruksi (13,27%), dan jasa (4,37%), yang tersebar di Jawa (62%), Sumatera (21,61%), Kalimantan (9,36%), serta Sulawesi, Maluku, dan Papua (7,03%).

Materi juga memuat data historis dividen dan laba per saham sejak 2015. Rasio pembayaran dividen dipangkas bertahap dari 30 persen laba bersih pada 2015-2019 menjadi 20 persen pada 2020-2023, lalu 10 persen pada 2024-2025. Sejalan dengan itu, dividen tunai yang dibagikan turun dari Rp52,2 miliar pada 2015 menjadi hanya Rp4 miliar pada 2025, dividen per saham turun dari Rp6,26 menjadi Rp0,46, dan laba per saham (EPS) merosot dari Rp19,95 menjadi Rp4,59 pada periode yang sama. Per 31 Juli 2026, struktur pemegang saham WTON terdiri dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebagai pengendali dengan 60 persen, Koperasi KKMS 3,96 persen, Yayasan Wijaya Karya 0,99 persen, publik dalam negeri 33,92 persen, dan publik luar negeri 1,13 persen.

Untuk strategi ke depan, manajemen yang dipimpin Direktur Utama Kuntjara dan Komisaris Utama Yudha Permana Jayadikarta mengusung tagline 'Bring Back Our Glory' yang berfokus pada penguatan tata kelola, pengendalian risiko bisnis, dan ekspansi ke pasar global, termasuk keterlibatan pada proyek Metro Manila Subway di Filipina. Perusahaan juga mencatatkan skor ESG 71 dari S&P Global dan telah menerapkan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berstandar ISO 37001:2025.