PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Total aset perusahaan turun menjadi Rp2.289,04 triliun dari Rp2.368,72 triliun pada akhir 2025. Penurunan paling tajam terjadi pada ekuitas, yang anjlok menjadi Rp175,49 miliar dari Rp361,93 miliar, hampir separuhnya hilang, akibat rugi bersih periode berjalan sebesar Rp186,44 miliar, melebar dari rugi Rp162,85 miliar pada periode sama tahun lalu. Rugi yang menjadi bagian pemilik entitas induk membesar ke Rp190,96 miliar dari Rp157,30 miliar, membuat rugi per saham melebar ke Rp7,56 dari Rp6,23 pada tahun sebelumnya.

Yang baru dalam laporan ini adalah munculnya penjualan sebesar Rp106,01 miliar, dibandingkan nihil pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ini berasal dari anak usaha PT Kapuas Prima Citra Industri, pabrik pembuatan logam dasar bukan besi di Pelabuhan Kalaf, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang baru beroperasi komersial pada 2026 dan dimiliki ZINC sebesar 70 persen dengan aset Rp280,11 miliar. Namun biaya pokok penjualan tercatat Rp88,79 miliar dan beban umum serta administrasi melonjak ke Rp53,61 miliar dari Rp24,89 miliar, sehingga perusahaan tetap mencatat rugi usaha Rp37,78 miliar. Beban bunga membengkak menjadi Rp150,73 miliar dari Rp63,91 miliar, naik lebih dari dua kali lipat, dan menjadi penyebab utama melebarnya rugi bersih.

Dari sisi kas, saldo kas dan bank tersisa Rp6,57 miliar per akhir September 2026, turun dari Rp10,06 miliar di akhir 2025, sementara arus kas dari aktivitas operasi masih negatif Rp41,93 miliar. Liabilitas jangka pendek mencapai Rp2.060,90 miliar, jauh melampaui aset lancar yang hanya Rp226,77 miliar, dengan porsi terbesar berupa utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun senilai Rp1.477,15 miliar. Saham ZINC saat ini berstatus Pemantauan Khusus (watchlist) di Bursa Efek Indonesia.