PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX) mencatat rugi bersih Rp21,83 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, berbalik dari laba Rp692,13 juta pada periode yang sama tahun lalu, berdasarkan laporan keuangan interim tidak diaudit yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada 28 Oktober 2026. Penjualan neto turun menjadi Rp186,07 miliar dari Rp232,87 miliar, dan perusahaan mencatat rugi usaha Rp9,66 miliar dibanding laba usaha Rp5,07 miliar setahun sebelumnya. Rugi per saham dasar tercatat Rp16,38, berbalik dari laba per saham Rp0,52. Beban bunga pinjaman melonjak jadi Rp13,70 miliar dari Rp3,01 miliar, seiring utang bank jangka pendek yang naik dari Rp266,05 miliar menjadi Rp391,62 miliar serta tambahan pembiayaan musyarakah jangka panjang baru senilai Rp54,40 miliar yang diterima selama periode ini.
Total aset perusahaan turun 29,23 persen menjadi Rp829,28 miliar dari Rp1,17 triliun pada akhir 2025, sementara total liabilitas turun 37,60 persen menjadi Rp518,14 miliar dari Rp830,40 miliar. Dalam surat tertanggal 27 Oktober 2026 kepada Direktur Penilaian Perusahaan BEI, yang disampaikan karena perubahan akun aset dan liabilitas melebihi 20 persen, manajemen menjelaskan penurunan itu terutama berasal dari pelunasan piutang usaha pihak ketiga senilai Rp620,92 miliar (91,77 persen), setelah tagihan penjualan perangkat komputasi portabel kepada Direktorat Pendidikan dibayar lunas, serta pelunasan utang usaha pihak ketiga senilai Rp474,16 miliar (89,43 persen) setelah perusahaan membayar pemasok bahan baku untuk proyek pengadaan yang sama. Kas dan setara kas melonjak dari Rp4,54 miliar menjadi Rp132,87 miliar, didukung arus kas dari aktivitas operasi yang berbalik positif Rp49,25 miliar dari sebelumnya negatif Rp32,31 miliar.
Ekuitas perusahaan turun menjadi Rp311,14 miliar pada akhir September 2026 dari Rp341,47 miliar pada akhir 2025, terutama karena rugi periode berjalan yang menggerus saldo laba. Dalam surat yang sama, manajemen menyatakan bahwa perubahan besar pada akun aset dan liabilitas ini tidak berdampak negatif terhadap kinerja perseroan, meski laporan laba rugi pada periode yang sama menunjukkan perusahaan berbalik dari untung menjadi rugi.
