PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melaporkan laba periode berjalan sebesar US$329,2 juta untuk semester pertama 2026, naik 69 persen dibandingkan US$194,9 juta pada periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah itu, US$309,4 juta menjadi bagian pemilik entitas induk, sehingga laba per saham naik hampir dua kali lipat dari US$0,00587 menjadi US$0,01074. Pendapatan usaha perseroan naik 16,5 persen menjadi US$999,2 juta, dengan laba usaha melonjak dari US$203,3 juta menjadi US$381,8 juta. Laporan keuangan interim ini telah direviu terbatas oleh KAP Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan dengan partner Firman Sababalat, dan hasil reviu menyatakan tidak ada hal yang membuat laporan tidak wajar secara material.

Bersamaan dengan laporan keuangan, manajemen ADRO mengirim surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia karena pos jumlah liabilitas naik lebih dari 20 persen, ambang yang mewajibkan penjelasan tertulis sesuai Peraturan I-E BEI. Total liabilitas perseroan naik US$864 juta atau 48 persen, dari US$1.813 juta pada akhir 2025 menjadi US$2.677 juta pada akhir Juni 2026. Kenaikan itu terutama berasal dari liabilitas sewa yang melonjak 892 persen, dari US$76 juta menjadi US$756 juta, karena perseroan menandatangani perjanjian sewa baru untuk bangunan dan peralatan. Utang bank juga naik 59 persen dari US$745 juta menjadi US$1.183 juta akibat penarikan tambahan fasilitas pinjaman untuk membiayai proyek smelter aluminium.

Di sisi aset, total aset perseroan naik 14 persen menjadi US$7.805 juta, didorong kenaikan aset tetap sebesar 26 persen menjadi US$2.984 juta karena penambahan aset hak guna, serta persediaan yang melonjak 336 persen dari US$116 juta menjadi US$505 juta akibat penumpukan persediaan aluminium ingot. Meski laba naik tajam, arus kas dari aktivitas operasi justru berbalik menjadi negatif US$42,9 juta pada semester ini, dari positif US$333,2 juta pada semester I 2025, seiring pembayaran kepada pemasok dan kontraktor yang melonjak dari US$339,9 juta menjadi US$803,8 juta. Perseroan juga mengurangi modal ditempatkan dan disetor dari 29.389.689.400 saham menjadi 28.800.494.200 saham melalui penghapusan saham treasuri, serta membayarkan dividen US$197,5 juta kepada pemilik entitas induk pada periode ini, lebih rendah dari US$300 juta pada semester I 2025.