PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada Bursa Efek Indonesia. Produsen kemasan plastik dan bahan kimia khusus ini mencatat penjualan neto Rp2,77 triliun, naik 24 persen dari Rp2,23 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Setelah dikurangi beban pokok penjualan sebesar Rp2,4 triliun, laba bruto perusahaan melonjak hampir 60 persen menjadi Rp371,07 miliar dari sebelumnya Rp232,75 miliar.
Laba usaha naik lebih dari tiga kali lipat, dari Rp62,99 miliar menjadi Rp208,48 miliar. Setelah dikurangi beban keuangan yang naik menjadi Rp62,42 miliar dari Rp51,9 miliar serta beban pajak penghasilan Rp35,7 miliar, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak dari Rp3,16 miliar pada sembilan bulan 2025 menjadi Rp110,75 miliar pada sembilan bulan 2026. Laba per saham dasar ikut naik dari Rp5 menjadi Rp181 per saham.
Dari sisi posisi keuangan, total aset perusahaan per 30 September 2026 tercatat Rp4,07 triliun, naik dari Rp3,64 triliun pada akhir 2025, dengan kas dan setara kas naik dari Rp62,15 miliar menjadi Rp92,25 miliar. Namun piutang usaha dari pihak ketiga melonjak dari Rp638,46 miliar menjadi Rp958,62 miliar, dan pinjaman bank jangka pendek naik dari Rp786,85 miliar menjadi Rp911,84 miliar. Arus kas neto dari aktivitas operasi justru turun dari Rp146,97 miliar menjadi Rp43,47 miliar meski laba bersih meningkat tajam. Ekuitas neto naik dari Rp1,78 triliun menjadi Rp1,99 triliun, antara lain disumbang keuntungan selisih kurs penjabaran laporan keuangan senilai Rp103,25 miliar. Perseroan juga membagikan dividen senilai Rp5,06 miliar selama periode berjalan.
