PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) melaporkan pendapatan bersih Rp62,71 triliun dan laba bersih Rp6,91 triliun untuk semester I 2026, dalam paparan publik tahunan yang digelar 11 September 2026. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM, Arini Kasmira, mengatakan capaian ini ditopang oleh optimalisasi operasional, pengelolaan portofolio komoditas, serta disiplin menjaga efisiensi biaya.

Bisnis emas menjadi penopang utama dengan volume penjualan sekitar 18,1 ton dan pendapatan Rp50,39 triliun, atau sekitar 80 persen dari total pendapatan perusahaan. ANTAM juga tengah menyiapkan fasilitas manufaktur Logam Mulia baru di Gresik berkapasitas proyeksi 30 ton per tahun, yang saat ini masih pada tahap prakonstruksi. Di segmen nikel, ANTAM mencatat produksi bijih sekitar 7,78 juta wet metric ton (wmt) dan penjualan 6,77 juta wmt sepanjang semester I 2026, seluruhnya untuk memenuhi pasar domestik, seiring pengembangan rantai hilirisasi dari tambang, pengolahan RKEF dan HPAL, hingga material dan sel baterai kendaraan listrik.

Pada komoditas bauksit, ANTAM mengoperasikan tambang di Tayan dan fasilitas Chemical Grade Alumina (CGA) melalui PT Indonesia Chemical Alumina berkapasitas terpasang 300 ribu ton per tahun, ditambah kepemilikan 40 persen di fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah berkapasitas 1 juta ton per tahun. Dari sisi neraca, hingga akhir semester I 2026 ANTAM mencatat total aset Rp61,27 triliun, total ekuitas Rp38,53 triliun, serta kas dan setara kas Rp9,23 triliun.