PT Antam (Persero) Tbk menyampaikan laporan hasil Public Expose Live 2026 yang digelar Bursa Efek Indonesia secara daring lewat Zoom pada 10 September 2026, dihadiri 130 peserta dari perusahaan sekuritas, manajer aset, media, dan investor ritel, serta sesi konferensi pers yang diikuti 62 wartawan. Perseroan diwakili Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Arini Kasmira, Corporate Secretary Division Head Wisnu Danandi Haryanto, dan Investor Relations Bureau Head Muhammad Ihsan Budi Rahman, dengan moderator Wicky Adrian dari IDX Channel.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen memaparkan pendapatan semester I 2026 sebesar Rp62,71 triliun, naik sekitar 6 persen dari Rp59,02 triliun pada semester I 2025, sementara laba bersih melonjak 34 persen dari Rp5,14 triliun menjadi Rp6,91 triliun. Margin laba bersih ikut naik dari 8,7 persen menjadi 11 persen. Manajemen juga membeberkan tren laba bersih semester I dalam tiga tahun terakhir, dari Rp1,51 triliun pada 2024, Rp5,14 triliun pada 2025, hingga Rp6,91 triliun pada 2026. Untuk kebutuhan investasi 2026, Antam menganggarkan belanja modal sekitar Rp7 triliun, dengan porsi terbesar untuk pengembangan rantai nilai nikel, dan menegaskan keputusan investasi final tiap proyek tetap menunggu hasil evaluasi keekonomian.
Pada segmen emas, volume penjualan semester I 2026 tercatat sekitar 18,1 ton dengan kontribusi pendapatan sekitar Rp50,13 triliun, sementara Logam Mulia diklaim menguasai pangsa pasar domestik sekitar 60 persen dan menjadi satu-satunya refinery emas Indonesia yang masuk daftar LBMA Good Delivery List. Antam tengah menyiapkan fasilitas manufaktur Logam Mulia baru di Gresik dengan proyeksi kapasitas sekitar 30 ton per tahun. Di segmen nikel, produksi bijih semester I 2026 mencapai sekitar 7,78 juta wet metric ton dengan penjualan sekitar 6,77 juta wmt, seluruhnya diserap pasar domestik, sementara hilirisasi diarahkan lewat fasilitas RKEF, HPAL, dan ekosistem baterai kendaraan listrik.
