PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) mencatatkan laba periode berjalan sebesar Rp9,66 triliun pada sembilan bulan pertama 2026 (9M26), naik 46% dari Rp6,61 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA perusahaan naik 45% menjadi Rp13,48 triliun dari Rp9,33 triliun. Laba kotor tercatat Rp15,56 triliun, tumbuh 42% dari Rp10,98 triliun, sementara laba usaha naik 53% menjadi Rp12,05 triliun dari Rp7,89 triliun. Laba bersih per saham dasar naik 48% menjadi Rp367,78 dari Rp248,62. Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, menyatakan capaian ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika industri pertambangan.

Dari sisi fundamental keuangan, total aset ANTAM naik 24% menjadi Rp59,74 triliun dari Rp48,07 triliun, sementara ekuitas naik 17% menjadi Rp41,22 triliun dari Rp35,20 triliun. Kas dan setara kas tumbuh 14% menjadi Rp10,54 triliun, dan arus kas bersih dari aktivitas operasi naik 26% menjadi Rp5,06 triliun, didukung penerimaan kas dari pelanggan yang mencapai Rp87,92 triliun, naik 29% dari Rp68,24 triliun. Penjualan bersih perusahaan tercatat Rp88,48 triliun, tumbuh 23% dari Rp72,03 triliun, dengan penjualan domestik menyumbang Rp83,86 triliun atau 95% dari total penjualan, didorong permintaan dalam negeri atas emas, bijih nikel, dan bijih bauksit.

Berdasarkan segmen, emas tetap jadi penyumbang terbesar dengan 77% dari total penjualan, mencapai Rp68,41 triliun, naik 17% dari Rp58,67 triliun, dengan volume penjualan 25.217 kg dan produksi tambang 634 kg. Segmen nikel (feronikel dan bijih nikel) menyumbang 19% penjualan dengan pendapatan Rp16,98 triliun, naik 52% dari Rp11,15 triliun. Produksi bijih nikel mencapai 12,16 juta wet metric ton (wmt) dengan penjualan 10,73 juta wmt, sementara produksi feronikel tercatat 11.638 ton nikel dalam feronikel (TNi) dan penjualannya naik 71% menjadi 13.971 TNi dari 8.182 TNi. Segmen bauksit dan alumina menyumbang 3% penjualan senilai Rp2,64 triliun, naik 35%, dengan produksi bauksit 2 juta wmt, penjualan bauksit naik 49% menjadi 1,64 juta wmt, produksi alumina 153.399 ton (naik 14%), dan penjualan alumina 146.642 ton (naik 9%). Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM, Arini Kasmira, menyebut hasil ini didukung pengelolaan modal kerja yang efektif dan pengendalian biaya yang disiplin.