PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) menerbitkan koreksi atas laporan hasil public expose tahunan yang sebelumnya disampaikan pada 23 Juni 2026. Public expose sendiri berlangsung Jumat, 19 Juni 2026 pukul 11.00 WIB melalui Zoom Meeting, dihadiri jajaran komisaris dan direksi yaitu Komisaris Utama Agus Herlambang, Komisaris Independen Leon Tangi, Direktur Utama Jon Adijaya, serta Direktur yang juga menjabat Corporate Secretary, Wiyana, yang menyampaikan presentasi kinerja operasional 2025. Selain manajemen, hadir empat peserta publik yaitu investor bernama William, analis bernama Daniel, wartawan Ipotnews Marjudin, dan satu peserta publik lain bernama Deffandi Nasrul.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengungkap bahwa sektor asuransi menyumbang sekitar 78 persen dari total pendapatan perseroan, dengan andalan premi asuransi jiwa, sementara sektor pembiayaan tengah mengembangkan sales and leaseback factoring serta pembiayaan multiguna lewat kantor pusat dan cabang di berbagai kota. Perseroan juga memiliki surat utang jangka menengah atau MTN senilai Rp400 miliar dengan bunga 9,75 persen yang jatuh tempo tahun ini, dan manajemen menyiapkan dua opsi pelunasan yaitu menerbitkan surat utang baru atau menjual sebagian aset investasi. Ekuitas perseroan tercatat tumbuh 30,34 persen sepanjang 2025, namun manajemen mengonfirmasi kenaikan itu berasal dari penghasilan komprehensif lain yang sifatnya keuntungan belum terealisasi dari bisnis asuransi, bukan dari laba berjalan. Manajemen juga menyebut laba bersih justru naik meski pendapatan turun tiga tahun berturut-turut, ditopang penurunan beban administrasi sebesar 24,7 persen yang disebut sebagai penyesuaian kebijakan mengikuti perkembangan regulasi dan tata kelola berkelanjutan.

Manajemen memastikan tidak ada pembagian dividen tahun ini. Terkait tren kenaikan suku bunga acuan dan fluktuasi rupiah, manajemen menyatakan beban bunga pinjaman perseroan sudah tetap dan tidak berubah kecuali ada pinjaman baru, sementara perubahan nilai tukar tidak berdampak karena seluruh pinjaman perseroan dan investasi entitas anak dalam mata uang rupiah. Untuk 2026, manajemen menargetkan pendapatan usaha naik dari tahun 2025 dan laba usaha naik sekitar 22 persen dari tahun 2025.