Arthavest Tbk (ARTA) menjawab surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia nomor S-13178/BEI.PP3/10-2026 tanggal 16 Oktober 2026 terkait laporan keuangan per 30 Juni 2026. Dalam surat balasan yang ditandatangani Direktur Utama Dahnu Teguh Adrianto dan Direktur Tsun Tien Wen Lie, perseroan menjelaskan bahwa penurunan signifikan kas dan setara kas terutama disebabkan oleh investasi senilai Rp37 miliar pada saham PT Intiland Development Tbk (DILD), setara 3,194 persen kepemilikan. Alasan investasi itu, menurut ARTA, adalah fundamental DILD yang dinilai baik dengan rasio harga wajar terhadap nilai buku yang sangat rendah. Perseroan menegaskan tidak ada hubungan afiliasi dengan DILD maupun dengan PT Asuransi Dayin Mitra Tbk, dan akan mengawasi pergerakan harga saham DILD secara berkala untuk mencegah kerugian pada investasi ini. Arus kas dari kegiatan usaha inti perseroan disebut masih negatif, namun ARTA mengklaim tetap menjaga saldo kas untuk kebutuhan operasional minimal satu tahun ke depan.
Soal piutang usaha yang naik signifikan, ARTA menyebut penyebabnya adalah tagihan dari sejumlah acara yang diselenggarakan lembaga kementerian, Pemprov DKI Jakarta, dan DPRD di entitas anaknya, yang baru dibayar lunas pada kuartal III 2026. Tiga pihak dengan piutang terbesar adalah Komisi Pemilihan Umum sebesar Rp568.344.740, LP3KP Rp181.359.303, dan HotelBeds Rp197.201.969. Perseroan menyebut tidak membentuk cadangan kerugian piutang karena yakin seluruh piutang tertagih, dengan target rata-rata periode kredit di bawah 30 hari. Di sisi pendapatan, penurunan pada segmen kamar serta makanan dan minuman dikaitkan dengan persaingan usaha dari hotel bintang empat lain di sekitar lokasi. Sebagai respons, entitas anak ARTA menjual lewat media sosial, menawarkan paket bundling, dan promosi makan sepuasnya (all you can eat).
Utang usaha perseroan tercatat turun tajam dari Rp1,85 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp430,13 juta per 30 Juni 2026, yang menurut ARTA terutama karena beban acara akhir tahun (year end party) di Hotel Redtop baru akan dibayarkan pada awal tahun berikutnya. Pemasok dengan saldo utang terbesar antara lain UD Agil Jaya, UD Sumber Barokah, dan PT Laut Biru, yang masing-masing nilainya menyusut dibanding akhir 2025. Perseroan juga menambah aset tetap sebesar Rp1,8 miliar untuk renovasi bangunan serta penggantian mesin dan perabotan hotel, dengan target proyek aset dalam konstruksi selesai sebelum akhir tahun 2026. Sementara itu, peningkatan persediaan dikaitkan dengan pembelian solar untuk genset sebagai antisipasi pemadaman listrik di entitas anak.
