Pemerintah, melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, mengklaim proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp), satuan yang menunjukkan daya maksimal panel surya dalam kondisi optimal, bisa menghemat subsidi energi negara Rp73,9 triliun per tahun sekaligus membuka 5,52 juta lapangan kerja. Proyek yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun ini disebut jadi salah satu andalan pemerintah untuk menekan impor bahan bakar minyak dan memperkuat kemandirian energi, dan sudah masuk dalam Rancangan APBN 2027.

Total investasi yang dibutuhkan untuk merampungkan seluruh 100 GWp itu diperkirakan mencapai US$73 miliar, setara lebih dari Rp1.140 triliun. Sejauh ini pemerintah baru memulai pembangunan atau groundbreaking untuk 5,3 GWp, di antaranya PLTS berkapasitas 1.000 megawatt di Bali yang dilengkapi baterai penyimpanan energi agar listrik tetap tersedia saat matahari tidak bersinar.

Bahlil juga mengklaim proyek ini bisa menekan emisi karbon hingga 140 juta ton CO2 per tahun, dengan nilai ekonomi karbon yang ditaksir sekitar Rp6,31 triliun. Selain di wilayah yang jaringan listriknya sudah kuat, pemerintah menyebut proyek PLTS ini juga akan diarahkan untuk memperluas akses listrik ke desa-desa yang selama ini belum terjangkau jaringan.