PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) melaporkan laba bersih senilai Rp47,3 miliar untuk sembilan bulan pertama 2026, turun 63 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp128,2 miliar. Laba per saham ikut tergerus dari Rp9,21 menjadi Rp3,36. Penurunan ini terjadi meski total aset bank naik 10 persen menjadi Rp15,94 triliun per akhir September 2026, dari Rp14,42 triliun pada akhir 2025, menurut laporan keuangan interim tidak diaudit yang disampaikan Presiden Direktur Koko Tjatur Rachmadi kepada Bursa Efek Indonesia pada 26 Oktober 2026.

Penyebab utama penyusutan laba adalah membengkaknya bagian keuntungan yang harus dibagikan ke nasabah penyimpan dana. Total pendapatan dari pengelolaan dana sebagai mudharib, yakni peran bank sebagai pengelola dana nasabah dalam skema syariah, naik 8,9 persen dari Rp595,6 miliar menjadi Rp648,7 miliar. Namun hak nasabah atas bagi hasil dana syirkah temporer melonjak 64,8 persen dari Rp347,6 miliar menjadi Rp573 miliar, sehingga bagian keuntungan yang benar-benar menjadi milik bank justru merosot 69,5 persen, dari Rp248 miliar menjadi Rp75,7 miliar. Ini terjadi walau beban operasional bank justru turun 7,6 persen menjadi Rp417,9 miliar.

Di sisi pendanaan, bank menerbitkan sukuk atau obligasi berbasis syariah senilai Rp1,025 triliun pada periode ini, setelah tidak ada penerbitan serupa hingga akhir 2025. Deposito berjangka mudharabah dari nasabah pihak ketiga turun dari Rp9,29 triliun menjadi Rp6,6 triliun, sementara muncul deposito berjangka antarbank senilai Rp2 triliun yang sebelumnya tidak ada. Jumlah saham beredar bertambah dari 13.918.499.863 lembar menjadi 14.089.731.085 lembar, sedangkan total ekuitas naik tipis dari Rp3,29 triliun menjadi Rp3,32 triliun.