PT Benteng Api Technic Tbk (BATR) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia atas surat penelaahan bernomor S-11267/BEI.PP2/09-2026 tanggal 2 September 2026 terkait laporan keuangan tengah tahun per 30 Juni 2026. Tanggapan yang ditandatangani Direktur BATR, Aswin Asmantono, tertanggal 4 September 2026 ini menjawab 14 pertanyaan bursa seputar arus kas, piutang, persediaan, aset tetap, dan utang perusahaan.
Poin utama yang disorot bursa adalah arus kas dari aktivitas operasional yang mencatat kas keluar Rp9,9 miliar per Juni 2026, memburuk dibandingkan periode sama tahun lalu yang minus Rp1,4 miliar. Perseroan menjelaskan pembayaran kas ke pemasok melonjak menjadi Rp52,78 miliar dari Rp28,87 miliar, sejalan dengan kenaikan pendapatan usaha menjadi Rp81,37 miliar dari Rp54,50 miliar, naik 49,3 persen, serta beban pokok pendapatan yang naik menjadi Rp59,08 miliar dari Rp41,02 miliar. Manajemen berjanji mempercepat penagihan piutang, mengoptimalkan persediaan, mengatur ulang jadwal pembayaran ke pemasok, dan menunda pengeluaran yang tidak mendesak hingga akhir 2026 untuk memperbaiki arus kas.
Saldo kas perusahaan di Bank Rakyat Indonesia turun dari Rp16,1 miliar per akhir Desember 2025 menjadi sekitar Rp2 miliar per Juni 2026, penurunan Rp14,1 miliar yang menurut manajemen dipakai untuk kebutuhan operasional dan modal kerja. Dari total piutang usaha Rp45 miliar, senilai Rp16,3 miliar sudah berumur di atas 90 hari akibat keterlambatan pembayaran pelanggan, sehingga cadangan kerugian nilai piutang naik menjadi Rp15,4 miliar. Perseroan juga tengah membangun gedung kantor pusat baru melalui kontrak dengan PT Refindo Sentral Teknik senilai Rp2.024.381.600 dan CV Multi Jaya Teknik Abadi senilai Rp214.030.517, ditargetkan rampung Desember 2026.
Pada pos lain, utang lain-lain kepada pihak ketiga naik 94,5 persen menjadi Rp823,7 juta dari Rp423,5 juta, terutama karena kewajiban baru kepada PT Alam Global Samudra sebesar Rp466,8 juta dan kenaikan kewajiban ke PT Central Jasatama Indonesia menjadi Rp288,9 juta dari Rp34,1 juta, meski utang ke PT JAT Securindo Service senilai Rp214,5 juta dan PT Refindo Sentral Teknik senilai Rp130,2 juta sudah lunas. Perseroan juga melepas sejumlah kendaraan lama, termasuk sebuah mobil Fortuner tahun 2016, dengan total nilai buku Rp598,1 juta karena dinilai tidak produktif namun tetap membebani biaya pajak dan perawatan, lalu menjualnya seharga Rp313 juta.
