PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) menyampaikan keterbukaan informasi bahwa perseroan berencana membeli kembali sahamnya sendiri yang beredar di Bursa Efek Indonesia. Program ini merujuk pada aturan OJK soal pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan, sehingga bisa dilakukan tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terlebih dahulu. Pemberitahuan rencana ini disampaikan ke OJK dan Bursa Efek Indonesia pada 2 September 2026, dengan perkiraan periode pembelian berlangsung 3 September hingga 2 Desember 2026 melalui satu anggota bursa.
Dana yang disiapkan untuk buyback ini berasal dari saldo laba ditahan perseroan, dengan nilai maksimal Rp300 miliar atau setara 1,93 persen dari total aset perseroan per 30 Juni 2026. Perseroan tidak menetapkan batas harga pembelian secara spesifik, hanya menyebut akan membeli pada harga yang dianggap baik dan wajar oleh manajemen sesuai ketentuan yang berlaku. Saham yang dibeli kembali akan disimpan sebagai saham treasuri untuk jangka waktu yang diatur dalam POJK 29/2023.
Dalam proforma yang disertakan, jika seluruh dana Rp300 miliar terpakai, total aset perseroan turun dari Rp15,57 triliun menjadi Rp15,27 triliun, dan ekuitas turun dari Rp7,34 triliun menjadi Rp7,04 triliun per posisi 30 Juni 2026. Laba bersih diperkirakan turun dari Rp233,67 miliar menjadi Rp227,67 miliar akibat hilangnya potensi bunga dari dana yang dipakai untuk buyback, sehingga laba per saham turun tipis dari Rp21,51 menjadi Rp21,33. Rasio kecukupan modal (CAR) diperkirakan turun dari 66,35 persen menjadi sekitar 63,58 persen, sementara return on equity (ROE) justru naik dari 6,31 persen menjadi 6,41 persen. Surat ini ditandatangani Ari Yanuanto Asah selaku Pelaksana Tugas Direktur Utama, dengan Corporate Secretary Stacey Aryadi Suryoputro sebagai pengirim laporan ke OJK dan BEI.
