PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) menjawab surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia nomor S-10738/BEI.PP3/08-2026 tanggal 13 Agustus 2026, sebagai kelanjutan tanggapan sebelumnya pada 22 Juli 2026. Surat yang ditandatangani Direktur Winston Mulyadi pada 19 Agustus 2026 ini mengonfirmasi bahwa dua pihak yang masuk sebagai pemegang saham BIKE lewat transaksi negosiasi pada 17 April 2026, yaitu KSI dan SSI, ternyata berafiliasi dengan PT Penajam Makmur Jaya (PMJ) karena masing-masing memegang 20 persen dan 80 persen saham PMJ. Karena itu, Bursa meminta BIKE mengoreksi Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek periode April sampai Juli 2026, dan Perseroan menyatakan sudah berkoordinasi dengan biro administrasi efek untuk melakukan koreksi tersebut. Perseroan juga mengonfirmasi pembatalan rencana akuisisi PT Laxo Global Akses, dengan alasan tidak tercapainya kesepakatan akhir mengenai pembagian hak dan kewajiban antara BIKE dan pemegang saham perusahaan tersebut.
Bagian utama surat menjelaskan skema akuisisi enam calon anak usaha, yaitu PT Ratu Karya (RK), PT Pertama Energi Global (PEG), PT Fahreza Duta Perkasa (FDP), PT Sentra Multikarya Infrastruktur (SMI), PT Menn Teknologi Indonesia Tbk (MENN), dan PT Karya Bersinar Indonesia (KBI). Seluruh pendanaan berasal dari fasilitas pinjaman Rp1 triliun yang dikucurkan PMJ ke BIKE, yang disalurkan bertahap sesuai kontribusi masing-masing lini bisnis: RK mendapat kucuran awal Rp200 miliar untuk membeli 98 persen saham atau 24.500 lembar dari PT Mega Teknologi Investama, PEG Rp50 miliar untuk 99 persen saham atau 19.800 lembar dari PT Telaga Gelang Indonesia, FDP Rp425 miliar untuk 98 persen saham atau 147.000 lembar dari PT Fahreza Bumi Megah, SMI Rp50 miliar untuk 98 persen saham atau 40.000 lembar dari PT Sarana Media Investama, MENN Rp25 miliar untuk 59,84 persen saham atau 858.304.179 lembar, dan KBI Rp250 miliar untuk 80 persen saham atau 180.000 lembar dari PT Metro Investama Global. Seluruh transaksi ditargetkan efektif pada kuartal I sampai III 2027, setelah mendapat persetujuan RUPS Independen Perseroan.
Dari sisi keuangan calon anak usaha per Maret 2026, FDP tercatat memiliki aset Rp132,5 miliar dan ekuitas Rp125,14 miliar, MENN beraset Rp44,1 miliar dengan ekuitas Rp42,35 miliar, sedangkan KBI jauh lebih besar dengan aset Rp2,92 triliun tetapi juga membawa liabilitas Rp2 triliun, sehingga ekuitasnya hanya Rp915,2 miliar. Salah satu kontrak terbesar yang diungkap adalah milik PEG, yaitu proyek penyediaan dan instalasi pembangkit listrik tenaga diesel Poasia 30 MW senilai Rp320,5 miliar dan PLTD Lambuya 20 MW senilai Rp214,75 miliar, keduanya untuk PLN Nusantara Power Services.
Perseroan turut mengungkap bahwa pengendali akhir sekaligus pemilik manfaat tertinggi dari seluruh struktur ini, termasuk PMJ, adalah individu bernama Cahyadi. Nama keluarga yang sama juga tercatat sebagai pemilik manfaat di lima dari enam calon anak usaha, yaitu M. Yusuf Cahyadi di RK dan PEG, Nadila Syafira Cahyadi di FDP, Ardi Cahyadi di SMI, dan Indradi Cahyadi di KBI.
